landmark Kota Makassar, Monumen Mandala, di Jalan Jenderal Soedirman
SulawesiPos.com — Berdiri megah setinggi 75 meter di Jalan Jenderal Sudirman, Monumen Mandala tak sekadar menjadi penanda kota ikonik, melainkan simbol kebanggaan masyarakat Kota Makassar.
Tugu megah berbentuk segitiga ini berdiri kokoh memperingati salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah kedaulatan Indonesia, yakni perjuangan pembebasan Irian Barat yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto.
Melalui pembentukan Komando Mandala oleh Presiden Soekarno pada 2 Januari 1962, Makassar terpilih sebagai pusat Markas Komando. Posisi strategis Makassar menjadikannya basis utama pergerakan pasukan dan perencanaan operasi militer Trikora (Tiga Komando Rakyat).
Sebagai Panglima Komando Mandala, Mayjen Soeharto memimpin komando ini hingga Irian Barat berhasil direbut kembali dari kekuasaan Belanda pada tahun 1962.
Lokasi tempat berdirinya Monumen Mandala memiliki rekam jejak panjang. Pada 1876, kawasan ini difungsikan sebagai kweekschool atau sekolah guru pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Selanjutnya pada 1946, fungsinya berganti menjadi Hoofdkwartier van de Koninklijke Marine atau Markas Angkatan Laut Kerajaan Belanda, sebelum akhirnya dijadikan Markas Komando Mandala pada awal 1962.
Perubahan fungsi kawasan ini meninggalkan kesan tersendiri bagi warga lokal. Salah seorang warga Makassar, Yuyun, mengenang bahwa sebelum berdiri monumen seperti sekarang, kawasan tersebut sempat difungsikan sebagai markas militer daerah.
“Dulu lokasi Monumen Mandala ini dikenal sebagai markas Kowilhan III (Komando Wilayah Pertahanan III) sebelum akhirnya ditutup dan dirobohkan untuk dibangun monumen,” ujar Yuyun.
Bangunan lama tersebut resmi dirobohkan pada 1993. Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, H.A. Zainal Basri Palaguna, mengusulkan pembangunan monumen baru sebagai sarana mengenang jasa para pejuang dan peran vital Makassar.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 11 Januari 1994 oleh Menko Polkam Soesilo Soedarman, dan monumen ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 19 Desember 1995.
Setiap sudut arsitektur Monumen Mandala dirancang penuh makna filosofis sejarah. Bentuk segitiga sama sisi pada bangunan utama melambangkan Trikora (Tiga Komando Rakyat). Menara setinggi 62 meter merepresentasikan tahun kembalinya Irian Barat ke pangkuan NKRI pada 1962, dengan total tinggi bangunan mencapai 75 meter.
Elemen pendukung lainnya turut memperkuat nilai historis bangunan. Keberadaan 27 bambu runcing serta relief lidah api menggambarkan simfoni perjuangan rakyat dan semangat membara dalam membela kedaulatan bangsa.
Sementara itu, kolam yang mengelilingi menara melambangkan kejernihan berpikir para pemimpin dan pejuang dalam mengatur strategi perang.
Sebagai monumen kebanggaan, tempat ini dikembangkan menjadi museum khusus Tipe C di bawah pengelolaan Pemprov Sulawesi Selatan melalui UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie. Museum ini menyimpan lebih dari 90 koleksi sejarah, mulai dari peta operasi, foto dokumentasi, hingga artefak militer.
Di lantai pertama museum, pengunjung disambut diorama dan relief perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan melawan penjajahan. Naik ke lantai kedua, tersaji rekam jejak serta dokumen perjalanan Operasi Mandala tahun 1962.
Lantai ketiga memuat area khusus berupa rekonstruksi Ruang Kerja Panglima Mandala. Di ruangan ini disajikan suasana kerja Mayjen Soeharto saat menyusun strategi, lengkap dengan peta Operasi Djayawidjaya, peta Irian Barat, foto persiapan pasukan, pakaian operasi, hingga tanda jabatan.
Pada lantai teratas atau lantai keempat, terdapat fasilitas ruang pandang bagi pengunjung untuk menikmati panorama lanskap Kota Makassar dari ketinggian.
Berada di kawasan strategis dekat Lapangan Karebosi dan Gedung Balai Prajurit Jenderal M. Jusuf, Monumen Mandala berdiri teguh bukan hanya sebagai objek wisata sejarah, melainkan kebanggaan akan peran penting Makassar dalam menyatukan Nusantara.