Cempalagi
SulawesiPos.com – Angin laut menerpa wajah ketika langkah mulai mendekati kawasan Cempalagi. Di hadapan mata, Teluk Bone terbentang luas.
Birunya laut berpadu dengan langit, sementara dari kejauhan garis pantai tampak memanjang dengan pasir putih yang perlahan muncul ketika air laut mulai surut.
Namun Cempalagi bukan sekadar tentang laut, pasir putih dan pemandangan yang memanjakan mata. Di balik bukit dan pepohonan yang tumbuh di kawasan ini, tersimpan sebuah kisah besar yang telah melewati ratusan tahun.
“Di tempat inilah, (Cempalagi) dalam suasana penuh kegentingan, Raja Bone La Tenritatta Arung Palakka merenung dan mengikrarkan sebuah janji untuk membebaskan rakyat Bone dari kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo,” kata Sejarawan Bone, Abdi Mahesa, Senin (7/9/2026).
Jejak sejarah itu berada di sebuah gua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Gua Janci, atau Gua Janji.
Menyusuri kawasan Cempalagi, suasana perlahan berubah. Gemuruh ombak yang sebelumnya terdengar jelas mulai berpadu dengan kesunyian pepohonan dan bebatuan.
Di sebuah sisi bukit terdapat mulut gua yang menjadi bagian paling bersejarah dari kawasan tersebut.
Gua itu tidak terlalu luas. Namun justru kesederhanaannya menghadirkan suasana berbeda.
Di dalamnya, stalaktit dan stalagmit menghiasi langit-langit serta dinding gua. Cahaya matahari yang masuk dari celah-celah tertentu membuat bagian dalam gua terasa teduh dan misterius.
Di tempat seperti inilah, menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, Arung Palakka melakukan perenungan sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Bukan keputusan biasa. Sebuah keputusan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Bone.
Masyarakat setempat mengenal beberapa peninggalan yang dikaitkan dengan sumpah Arung Palakka, di antaranya assingkerukeng, yang dipercaya sebagai simpul sumpah; akkarebbeseng, bekas cakaran tangan; serta attuddukeng, yang diyakini sebagai bekas pijakan tumit.
Bagi pengunjung, tanda-tanda itu bukan sekadar bentuk pada batu. Ia menjadi pengingat bahwa tempat yang kini relatif sunyi ini pernah dikaitkan dengan sebuah tekad besar seorang tokoh sejarah Bone.
Keluar dari gua, suasana kembali berubah. Angin laut menyambut. Di depan mata, Teluk Bone terbuka luas. Bila berkunjung ketika air laut sedang surut, hamparan pasir putih muncul tidak jauh dari bibir pantai. Warga menyebutnya Gusung Cempalagi.
Gusung pasir itu seolah menjadi pulau kecil yang muncul dan menghilang mengikuti pasang surut air laut.
Saat air surut, pengunjung dapat melihat pasir putih membentang di tengah perairan. Jaraknya pun relatif dekat, sekitar 20 meter dari bibir pantai.
Pasirnya lembut. Air laut terlihat jernih. Langit biru dan cahaya matahari membuat kawasan ini menjadi tempat yang begitu fotogenik. Tetapi jangan terlalu lama.
Ketika air laut kembali pasang, gusung pasir itu perlahan tenggelam. Hamparan putih yang sebelumnya terlihat jelas kembali tertutup air laut.
Karena itu, pagi hari saat air sedang surut menjadi salah satu waktu yang tepat untuk menikmati pesona Gusung Cempalagi.
Tidak jauh dari ruang sejarah gua, terdapat pula sebuah sumur air tawar yang dipercaya masyarakat setempat tidak pernah kering. Sumur tersebut dikenal dengan sebutan sumur jodoh.
Ada kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mandi atau mengambil air dari sumur tersebut dapat membantu seseorang menemukan pasangan. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu kembali kepada keyakinan masing-masing.
Namun keberadaan sumur tersebut menjadi bagian lain dari cerita yang membuat Cempalagi terasa berbeda.
Sejarah, kepercayaan masyarakat dan alam seolah bertemu di satu tempat.
Nama Cempalagi sendiri juga memiliki cerita.
Konon, nama itu berkaitan dengan pohon asam atau cempa yang tumbuh besar di kawasan bukit tersebut. Pada masa perang, kawasan ini disebut menjadi salah satu tempat berlindung dan bertahan hidup.
Maka ketika hari ini wisatawan datang membawa kamera, keluarga menikmati pantai, atau anak-anak bermain di pasir, sulit membayangkan bahwa ratusan tahun silam kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari masa penuh ketegangan.
Cempalagi menyimpan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia adalah tempat yang tenang dengan laut biru dan pasir putih.
Di sisi lain, ia adalah ruang yang membawa pengunjung menengok kembali perjalanan sejarah Bone dan sosok Arung Palakka.
Kini kawasan Cempalagi dikelola sebagai destinasi wisata sejarah, budaya dan bahari oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bone.
Menariknya, untuk memasuki kawasan wisata ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Cukup membayar Rp5.000 per orang, biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk sekaligus parkir.
“Sama ketika naik mobil atau motor hanya Rp5.000 per orang atau penumpangnya,” kata Pengelola Cempalagi, Supriadi.
Harga yang relatif murah membuat Cempalagi menjadi pilihan wisata yang cukup ramah bagi masyarakat. Tetapi yang dibawa pulang dari tempat ini bukan sekadar foto.
Ada cerita. Ada jejak sejarah.
Dan ada sebuah janji yang dipercaya pernah diikrarkan di dalam sebuah gua—janji seorang Arung Palakka untuk membebaskan rakyat Bone.
Di Cempalagi, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut. Mereka datang untuk menyentuh kembali jejak masa lalu.
Dan ketika berdiri di tepi pantai sambil memandang luasnya Teluk Bone, mungkin kita akan memahami mengapa tempat ini pernah dipilih sebagai ruang untuk merenung sebelum sebuah keputusan besar dibuat. (kar)