SulawesiPos.com – Kebun Denassa atau Denassa Botanical Garden (DBG) merupakan area konservasi lingkungan hidup, pengembangan dari Rumah Hijau Denassa (RHD).
DBG terletak di Bontoa, Lingkungan Bontorannu, Kelurahan Bontonompo, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.
Area seluas 4 Ha ini, merupakan integrate farming, di dalamnya terdapat area konservasi keanekaragaman hayati, perternakan, budidaya ikan air tawar, pengembangan pangan lokal, kebun bunga, pengolahan pupuk organik, nursery, taman baca, tempat berkemah (camping ground), sungai buatan dan fasilatas lainnya.
DBG juga merupakan area wisata berkelanjutan yang telah menjadi Desa Wisata dari Kementrian Pariwisata RI Sejak 2023 lalu.
Bahkan 2025 lalu dikunjungi khusus Wakil Menteri Pariwisata RI, Niluh Puspa.
Beragam kegiatan edukasi bisa diikuti antara lain cara menanam padi, belajar literasi sains dengan medium keanekaragaman hayati, interaksi ternak, memasak kue tradisional, membuat karya dari tanah liat, tangkap ikan, menangkap belalang, serta menulis atau menggambar pengalaman belajar.
Area berkemah bisa diakses untuk grup atau keluarga yang ingin menikmati suasana tenang di hamparan hijau kebun dan sawah, sembari mengikuti program DBG, untuk mengenalkan literasi (bahasa, sains, digital, budaya, dan kewargaan) pada tamu.

Kegiatan di DBG merupakan hasil rekonstruksi budaya dan tradisi, menjadi kegiatan eduwisata yang cocok untuk semua kalangan.
Program ini telah diikuti puluhan ribu khususnya anak PAUD-mahasiswa dari kawasan Maminasata, kabupaten lain di Sulsel, berbagai provinsi di tanah air, bahkan tamu dari puluhan negara sahabat.
“Kami menawarkan pengalaman belajar yang menyenangkan pada tamu dengan medium utama hewan dan tumbuhan serta aktifitas yang akrab dengan nenek moyangki sajak lama, tapi saat ini sudah sangat jarang diketahui dan dirasakan masyarakat urban khususnya genreasi Z dan A” Darmawan Denassa, owner Kebun Denassa.
Semua program disusun untuk mendukung perkembangan karakter, motorik, psikomotorik, kreatifitas, dan kepedulian tamu.
“Kami mengajak pengunjung untuk memuliakan makanan, dengan tidak membuang-buang makanan dan minuman” Denassa.
Proses produksi dan distribusi bahan makanan atau makanan jadi itu melewati waktu yang lama dan menggunakan sumber daya besar, sehingga sangat merugikan jika dibuang-buang.
Kita juga wajib menghargai hasil jerih payah orang lain seperti petani yang telah bekerja keras agar kita bisa mendapat beras, sayur, buah, daging, dan lainnya.
Makanan bisa sampai di rumah dan meja makan juga karena kerja keras orang tua kita, jerih payah mereka juga harus dimuliakan.
Di DGB pesan ini menjadi salah satu tujuan dari field trip atau outing class bagi pengunjung, agar mereka mengambil peran nyata mengurangi terbuangnya makanan atau bahan makanan, dengan mengingatkan mereka untuk menghabiskan makanan dan minuman, ambil secukupnya, dan mensyukuri setiap rezki yang kita peroleh setiap hari.
Dengan belajar langsung di alam diharapkan, meninggalkan kesan bagi mereka untuk tumbuh menjadi anak dan warga yang lebih peduli dan peka.

Kunjungan ke DBG senantiasa sinergi dengan pembelajar di kelas maupun di keluarga.
Setiap sesi kegiatan akan diikuti deskripsi berkaitan dengan sejarah, budaya, dan tradisi yang bertujuan meningkatkan pemahaman mereka, berharap mereka menginternalisasi hal-hal baik dari kegiatan kujungan.
Di DBG setiap pengunjung wajib antre, tertib, berbicara dengan pilihan kata positif dan saling menghargai (apresiatif inqury), menyimpan alas kaki dengan rapi dan teratur, membuang sampah ditempat sampah dengan terpilah damal empat kategori, tidak membawa bekal yang bisa menimbulkan sampah anorganik, serta menghabiskan makanan dan minuman. Aturan ini jua dibuatkan untuk mendukung tujuan berkunjung.
DBG senantiasa menyiapkan hadiah unik antara lain ayam kampung hidup, aneka sayur dan buah, bagi mereka yang berusaha lebih, seperti belajar lebih antusias, selalu tertib, sering membantu teman, atau menulis dan menggambar cerita terbaik pada sesi penutupan.

