24 C
Makassar
1 March 2026, 7:22 AM WITA

Mengenal Pelabuhan Poetere, Sejarah Maritim Makassar yang Tetap Hidup hingga Kini

SulawesiPos.com – Di pesisir utara Kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Ujung Tanah, berdiri satu kawasan yang bukan sekadar pelabuhan.

Pelabuhan Paotere adalah ruang hidup yang menyatukan sejarah, perdagangan, dan pariwisata dalam satu lanskap laut yang dinamis.

Sebagai salah satu pelabuhan tertua di Indonesia, Pelabuhan Paotere menyimpan jejak panjang sejak sekitar abad ke-14.

Pada masa kejayaannya, pelabuhan ini menjadi pusat perdangan penting di kawasan timur Nusantara, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Pelabuhan ini erat kaitannya dengan Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan maritim yang pernah berjaya di Sulawesi Selatan.

Dalam catatan sejarah lokal, dari kawasan inilah ratusan kapal Phinisi diberangkatkan, termasuk armada yang dikirim untuk menghadapi kekuatan kolonial Belanda di perairan Nusantara.

Hari ini, warisan itu masih terasa. Kapal-kapal kayu tradisional jenis Phinisi tetap bersandar di dermaga, berdampingan dengan kapal niaga modern.

Dari Pusat Dagang ke Destinasi Wisata

Meski kini dikenal sebagai tujuan wisata bahari, fungsi utama Paotere tidak pernah benar-benar bergeser.

Aktivitas bongkar muat barang antar pulau tetap berjalan setiap hari. Hasil laut, bahan kebutuhan pokok, hingga komoditas perdagangan lainnya keluar masuk pelabuhan ini.

Menjelang dini hari, suasana justru semakin hidup. Nelayan merapat dengan hasil tangkapan segar, lalu proses distribusi berlangsung cepat sebelum matahari terbit.

Siang harinya, kawasan sekitar pelabuhan berubah menjadi ruang jual beli ikan segar yang ramai.

Pemerintah daerah juga melakukan pembenahan, termasuk perluasan dermaga agar kapal dapat bersandar lebih optimal.

Langkah ini membuat Paotere tetap relevan sebagai pelabuhan aktif sekaligus lebih tertata sebagai kawasan wisata.

Kapal Tradisional yang Ikonik

Salah satu daya tarik utama Paotere adalah deretan kapal kayu berwarna-warni yang berjajar rapi.

Beberapa jenis kapal tradisional yang bisa ditemui di sini antara lain Phinisi, Jalloro, Katinting, hingga Patorani.

Aktivitas bongkar muat yang berlangsung di antara kapal-kapal itu justru menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi fotografer dan pemburu konten visual.

Sore hari menjadi momen favorit banyak pengunjung. Siluet kapal dengan latar langit jingga menciptakan suasana yang estetik tanpa perlu banyak sentuhan filter.

Tidak heran jika kawasan ini kerap dijadikan lokasi pemotretan hingga pembuatan konten kreatif.

Surga Kuliner Laut

Berwisata ke Paotere rasanya belum lengkap tanpa mencicipi hidangan lautnya.

Di sekitar kawasan pelabuhan, pengunjung bisa menikmati aneka ikan bakar dengan sambal cobe khas Makassar yang pedas dan segar.

Pilihan ikannya pun beragam, mulai dari ikan cepak, baronang, hingga kerapu.

Selain itu tersedia pula olahan seafood seperti kepiting, cumi-cumi, dan udang.

Bagi yang ingin membawa buah tangan, tersedia ikan kakap merah, ikan asin, dan ikan teri yang sudah melalui proses pengawetan sehingga lebih tahan lama.

Akses dan Tarif Masuk

Untuk menikmati suasana Paotere, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp3.000 per orang.

Jika membawa kendaraan, tarifnya Rp15.000 per kendaraan termasuk pengemudi. Sementara itu, penggunaan fasilitas dermaga atau penumpukan barang dikenakan biaya tambahan sesuai ketentuan yang berlaku.

SulawesiPos.com – Di pesisir utara Kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Ujung Tanah, berdiri satu kawasan yang bukan sekadar pelabuhan.

Pelabuhan Paotere adalah ruang hidup yang menyatukan sejarah, perdagangan, dan pariwisata dalam satu lanskap laut yang dinamis.

Sebagai salah satu pelabuhan tertua di Indonesia, Pelabuhan Paotere menyimpan jejak panjang sejak sekitar abad ke-14.

Pada masa kejayaannya, pelabuhan ini menjadi pusat perdangan penting di kawasan timur Nusantara, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Pelabuhan ini erat kaitannya dengan Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan maritim yang pernah berjaya di Sulawesi Selatan.

Dalam catatan sejarah lokal, dari kawasan inilah ratusan kapal Phinisi diberangkatkan, termasuk armada yang dikirim untuk menghadapi kekuatan kolonial Belanda di perairan Nusantara.

Hari ini, warisan itu masih terasa. Kapal-kapal kayu tradisional jenis Phinisi tetap bersandar di dermaga, berdampingan dengan kapal niaga modern.

Dari Pusat Dagang ke Destinasi Wisata

Meski kini dikenal sebagai tujuan wisata bahari, fungsi utama Paotere tidak pernah benar-benar bergeser.

Aktivitas bongkar muat barang antar pulau tetap berjalan setiap hari. Hasil laut, bahan kebutuhan pokok, hingga komoditas perdagangan lainnya keluar masuk pelabuhan ini.

Menjelang dini hari, suasana justru semakin hidup. Nelayan merapat dengan hasil tangkapan segar, lalu proses distribusi berlangsung cepat sebelum matahari terbit.

Siang harinya, kawasan sekitar pelabuhan berubah menjadi ruang jual beli ikan segar yang ramai.

Pemerintah daerah juga melakukan pembenahan, termasuk perluasan dermaga agar kapal dapat bersandar lebih optimal.

Langkah ini membuat Paotere tetap relevan sebagai pelabuhan aktif sekaligus lebih tertata sebagai kawasan wisata.

Kapal Tradisional yang Ikonik

Salah satu daya tarik utama Paotere adalah deretan kapal kayu berwarna-warni yang berjajar rapi.

Beberapa jenis kapal tradisional yang bisa ditemui di sini antara lain Phinisi, Jalloro, Katinting, hingga Patorani.

Aktivitas bongkar muat yang berlangsung di antara kapal-kapal itu justru menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi fotografer dan pemburu konten visual.

Sore hari menjadi momen favorit banyak pengunjung. Siluet kapal dengan latar langit jingga menciptakan suasana yang estetik tanpa perlu banyak sentuhan filter.

Tidak heran jika kawasan ini kerap dijadikan lokasi pemotretan hingga pembuatan konten kreatif.

Surga Kuliner Laut

Berwisata ke Paotere rasanya belum lengkap tanpa mencicipi hidangan lautnya.

Di sekitar kawasan pelabuhan, pengunjung bisa menikmati aneka ikan bakar dengan sambal cobe khas Makassar yang pedas dan segar.

Pilihan ikannya pun beragam, mulai dari ikan cepak, baronang, hingga kerapu.

Selain itu tersedia pula olahan seafood seperti kepiting, cumi-cumi, dan udang.

Bagi yang ingin membawa buah tangan, tersedia ikan kakap merah, ikan asin, dan ikan teri yang sudah melalui proses pengawetan sehingga lebih tahan lama.

Akses dan Tarif Masuk

Untuk menikmati suasana Paotere, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp3.000 per orang.

Jika membawa kendaraan, tarifnya Rp15.000 per kendaraan termasuk pengemudi. Sementara itu, penggunaan fasilitas dermaga atau penumpukan barang dikenakan biaya tambahan sesuai ketentuan yang berlaku.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/