24 C
Makassar
25 February 2026, 22:05 PM WITA

4 Makam Ulama yang Diziarahi saat Ramadan di Sulsel, Jejak Tokoh Penyebar Dakwah Islam

SulawesiPos.com – Bulan Ramadan kerap dimaknai umat Islam sebagai momentum memperbanyak amalan, termasuk tradisi ziarah ke makam para ulama dan tokoh penyebar dakwah sebagai bentuk penghormatan spiritual.

Di Sulawesi Selatan, kebiasaan berziarah ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi cara masyarakat mengenang jasa para tokoh Islam yang berperan besar dalam penyebaran ajaran Islam di masa lalu.

Dari Gowa hingga Makassar, sejumlah makam ulama dan tokoh dakwah selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama saat Ramadan.

Berikut empat makam ulama di Sulawesi Selatan yang kerap diziarahi selama bulan suci Ramadan.

1. Makam Syekh Yusuf Al Makassari

Makam Syekh Yusuf Al Makassari.
Makam Syekh Yusuf Al Makassari.

Makam Syekh Yusuf Al Makassari berada di Jalan Syekh Yusuf, Lakiung, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dan menjadi salah satu destinasi ziarah paling ramai saat hari besar Islam, termasuk Ramadan.

Syekh Yusuf (1626–1699) dikenal sebagai ulama besar sekaligus pahlawan nasional yang aktif melawan penjajahan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

Akibat perjuangannya, ia dibuang ke Sri Lanka lalu Afrika Selatan, sebelum akhirnya jenazahnya dipulangkan dari Cape Town ke Gowa pada 1705 atas permintaan Sultan Gowa.

Kini, makam Syekh Yusuf telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi tujuan ziarah umat Islam dari dalam maupun luar negeri.

2. Makam Raja-raja Luwu Lokkoe

Makam Raja-raja Luwu Lokkoe.
Makam Raja-raja Luwu Lokkoe.

Makam Lokkoe merupakan kompleks pemakaman keluarga bangsawan dan raja-raja (datu) Kerajaan Luwu yang sarat nilai sejarah Islam di Tanah Luwu.

Di kawasan ini terdapat makam tokoh penting penyebar Islam, seperti Datuk Sulaiman atau Datuk Patimang, yang atap makamnya memiliki tujuh tingkatan sebagai simbol derajat kebangsawanan.

Keunikan Makam Lokkoe terletak pada arsitekturnya yang memadukan adat Luwu dengan nilai-nilai Islam secara harmonis.

Kompleks makam ini berlokasi di Jalan Andi Jemma, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

3. Makam Datuk ri Bandang

Makam Datuk ri Bandang.
Makam Datuk ri Bandang.

Datuk ri Bandang memiliki nama asli Abdul Makmur atau Khatib Tunggal dan dikenal sebagai ulama asal Minangkabau yang berperan besar dalam Islamisasi Sulawesi Selatan.

Ia menjadi tokoh kunci dalam membawa raja-raja Gowa-Tallo memeluk Islam pada akhir abad ke-16, sekaligus menyebarkan dakwah ke Luwu dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

Karena peran strategis tersebut, makam Datuk ri Bandang kerap diziarahi umat Islam sebagai bentuk penghormatan atas jasa dakwahnya.

Makam ini berlokasi di Jalan Tarakan, Kelurahan Malimongan Baru, Kecamatan Tallo, Makassar, dan telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

4. Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro.
Makam Pangeran Diponegoro.

Makam Pangeran Diponegoro berada di Kompleks Kampung Jawa, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, dan menjadi salah satu situs ziarah religi bersejarah di Sulsel.

Di kompleks ini terdapat 66 makam yang merupakan keluarga dan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang ikut dalam masa pengasingan.

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang ditangkap Belanda melalui tipu muslihat dan diasingkan ke Makassar pada 1834.

Selama pengasingan, ia aktif menyalin Al-Qur’an, menulis catatan spiritual, serta menyebarkan nilai-nilai Islam, tasawuf, dan etika kepemimpinan.

Hingga pada 8 Januari 1855, ia wafat kemudian dimakamkan berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratnaningsih.

SulawesiPos.com – Bulan Ramadan kerap dimaknai umat Islam sebagai momentum memperbanyak amalan, termasuk tradisi ziarah ke makam para ulama dan tokoh penyebar dakwah sebagai bentuk penghormatan spiritual.

Di Sulawesi Selatan, kebiasaan berziarah ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi cara masyarakat mengenang jasa para tokoh Islam yang berperan besar dalam penyebaran ajaran Islam di masa lalu.

Dari Gowa hingga Makassar, sejumlah makam ulama dan tokoh dakwah selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama saat Ramadan.

Berikut empat makam ulama di Sulawesi Selatan yang kerap diziarahi selama bulan suci Ramadan.

1. Makam Syekh Yusuf Al Makassari

Makam Syekh Yusuf Al Makassari.
Makam Syekh Yusuf Al Makassari.

Makam Syekh Yusuf Al Makassari berada di Jalan Syekh Yusuf, Lakiung, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dan menjadi salah satu destinasi ziarah paling ramai saat hari besar Islam, termasuk Ramadan.

Syekh Yusuf (1626–1699) dikenal sebagai ulama besar sekaligus pahlawan nasional yang aktif melawan penjajahan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

Akibat perjuangannya, ia dibuang ke Sri Lanka lalu Afrika Selatan, sebelum akhirnya jenazahnya dipulangkan dari Cape Town ke Gowa pada 1705 atas permintaan Sultan Gowa.

Kini, makam Syekh Yusuf telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi tujuan ziarah umat Islam dari dalam maupun luar negeri.

2. Makam Raja-raja Luwu Lokkoe

Makam Raja-raja Luwu Lokkoe.
Makam Raja-raja Luwu Lokkoe.

Makam Lokkoe merupakan kompleks pemakaman keluarga bangsawan dan raja-raja (datu) Kerajaan Luwu yang sarat nilai sejarah Islam di Tanah Luwu.

Di kawasan ini terdapat makam tokoh penting penyebar Islam, seperti Datuk Sulaiman atau Datuk Patimang, yang atap makamnya memiliki tujuh tingkatan sebagai simbol derajat kebangsawanan.

Keunikan Makam Lokkoe terletak pada arsitekturnya yang memadukan adat Luwu dengan nilai-nilai Islam secara harmonis.

Kompleks makam ini berlokasi di Jalan Andi Jemma, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

3. Makam Datuk ri Bandang

Makam Datuk ri Bandang.
Makam Datuk ri Bandang.

Datuk ri Bandang memiliki nama asli Abdul Makmur atau Khatib Tunggal dan dikenal sebagai ulama asal Minangkabau yang berperan besar dalam Islamisasi Sulawesi Selatan.

Ia menjadi tokoh kunci dalam membawa raja-raja Gowa-Tallo memeluk Islam pada akhir abad ke-16, sekaligus menyebarkan dakwah ke Luwu dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

Karena peran strategis tersebut, makam Datuk ri Bandang kerap diziarahi umat Islam sebagai bentuk penghormatan atas jasa dakwahnya.

Makam ini berlokasi di Jalan Tarakan, Kelurahan Malimongan Baru, Kecamatan Tallo, Makassar, dan telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

4. Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro.
Makam Pangeran Diponegoro.

Makam Pangeran Diponegoro berada di Kompleks Kampung Jawa, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, dan menjadi salah satu situs ziarah religi bersejarah di Sulsel.

Di kompleks ini terdapat 66 makam yang merupakan keluarga dan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang ikut dalam masa pengasingan.

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang ditangkap Belanda melalui tipu muslihat dan diasingkan ke Makassar pada 1834.

Selama pengasingan, ia aktif menyalin Al-Qur’an, menulis catatan spiritual, serta menyebarkan nilai-nilai Islam, tasawuf, dan etika kepemimpinan.

Hingga pada 8 Januari 1855, ia wafat kemudian dimakamkan berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratnaningsih.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/