30 C
Makassar
18 January 2026, 14:10 PM WITA

Balla Lompoa: Sejarah, Arsitektur, dan Wisata Budaya di Sulawesi Selatan

Overview

  • Balla Lompoa adalah istana Kerajaan Gowa yang kini menjadi museum sejarah dan destinasi wisata budaya di Sungguminasa, Sulawesi Selatan.

  • Bangunan ini dibangun pada 1936 dengan arsitektur khas Bugis-Makassar dan menyimpan berbagai artefak kerajaanseperti mahkota Salokoa, gelang Ponto Janga-Jangaya, dan rantai Kotara.

  • Museum Balla Lompoa juga menjadi pusat pelestarian tradisi, termasuk upacara adat Accera Kalompoang, serta mudah dikunjungi dengan jam buka setiap hari dari 08.00–16.00 WITA.

SulawesiPos.com – Balla Lompoa, yang berarti “rumah besar” dalam bahasa Makassar, adalah istana Kerajaan Gowa yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah penting di Sulawesi Selatan.

Terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, komplek ini memiliki luas sekitar tiga hektar dan menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Gowa.

Lokasinya hanya 3 kilometer dari Kota Makassar, membuatnya mudah dijangkau pengunjung lokal maupun wisatawan, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun pete-pete (angkot).

Sejarah Balla Lompoa

Balla Lompoa dibangun pada tahun 1936, setelah diangkatnya Raja Gowa ke-XXXV, I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo, yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Baca Juga: 
Alasan Sakit, Tersangka Kasus Pembalakan Hutan Gowa Minta Penangguhan Penahanan

Istana ini berfungsi sebagai kediaman raja sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Gowa.

Pembangunannya juga memiliki makna simbolis sebagai penolakan terhadap salah satu ketentuan Perjanjian Bungaya, yang membatasi raja Gowa untuk mendirikan bangunan baru, termasuk gerbang, benteng, dan perkampungan.

Saat itu, Belanda hanya mempertahankan Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam), sementara kerajaan dilarang membangun benteng pertahanan baru.

Dengan mendirikan Balla Lompoa, Raja Gowa menegaskan kedaulatan dan identitas kerajaan.

Arsitektur dan Filosofi Budaya

Balla Lompoa dibangun dengan arsitektur khas Bugis-Makassar, menampilkan rumah panggung megah berbahan kayu ulin yang kuat.

Overview

  • Balla Lompoa adalah istana Kerajaan Gowa yang kini menjadi museum sejarah dan destinasi wisata budaya di Sungguminasa, Sulawesi Selatan.

  • Bangunan ini dibangun pada 1936 dengan arsitektur khas Bugis-Makassar dan menyimpan berbagai artefak kerajaanseperti mahkota Salokoa, gelang Ponto Janga-Jangaya, dan rantai Kotara.

  • Museum Balla Lompoa juga menjadi pusat pelestarian tradisi, termasuk upacara adat Accera Kalompoang, serta mudah dikunjungi dengan jam buka setiap hari dari 08.00–16.00 WITA.

SulawesiPos.com – Balla Lompoa, yang berarti “rumah besar” dalam bahasa Makassar, adalah istana Kerajaan Gowa yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah penting di Sulawesi Selatan.

Terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, komplek ini memiliki luas sekitar tiga hektar dan menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Gowa.

Lokasinya hanya 3 kilometer dari Kota Makassar, membuatnya mudah dijangkau pengunjung lokal maupun wisatawan, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun pete-pete (angkot).

Sejarah Balla Lompoa

Balla Lompoa dibangun pada tahun 1936, setelah diangkatnya Raja Gowa ke-XXXV, I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo, yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Baca Juga: 
Alasan Sakit, Tersangka Kasus Pembalakan Hutan Gowa Minta Penangguhan Penahanan

Istana ini berfungsi sebagai kediaman raja sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Gowa.

Pembangunannya juga memiliki makna simbolis sebagai penolakan terhadap salah satu ketentuan Perjanjian Bungaya, yang membatasi raja Gowa untuk mendirikan bangunan baru, termasuk gerbang, benteng, dan perkampungan.

Saat itu, Belanda hanya mempertahankan Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam), sementara kerajaan dilarang membangun benteng pertahanan baru.

Dengan mendirikan Balla Lompoa, Raja Gowa menegaskan kedaulatan dan identitas kerajaan.

Arsitektur dan Filosofi Budaya

Balla Lompoa dibangun dengan arsitektur khas Bugis-Makassar, menampilkan rumah panggung megah berbahan kayu ulin yang kuat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/