SulawesiPos.com – Sulawesi Selatan bukan hanya dikenal dengan bentang alamnya yang memukau, tapi juga dengan kekayaan budaya yang luar biasa.
Tak heran provinsi ini dijuluki “The Land of Tomorrow”, karena memiliki keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya yang unik.
Salah satu pengalaman wisata budaya yang tak boleh dilewatkan adalah berkunjung ke Kawasan Adat Segeri, tempat tinggal kaum Bissu, penjaga adat dan spiritual masyarakat Bugis.
Kawasan Segeri, yang menjadi pusat keberadaan Bissu, terletak di Kabupaten Pangkep.
Perjalanan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros memakan waktu sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan roda empat.
Setibanya di sana, pengunjung akan disambut rumah adat Bugis bercat coklat yang menyimpan pusaka sakral Arajang serta berbagai perlengkapan ritual yang digunakan dalam upacara adat.
Bertemu Bissu bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Pengunjung wajib meminta izin pemilik rumah apakah diperbolehkan masuk atau hanya berada di luar pagar.
Bagi wisatawan dari luar Sulawesi, disarankan membawa perantara, karena Bissu menggunakan Bahasa Bugis.
Dalam budaya Bugis kuno (Attoriolong), masyarakat mengenal lima jenis gender: oroane (pria), makkunrai (wanita), calalai (perempuan berpenampilan laki-laki), calabai (laki-laki berpenampilan perempuan), dan Bissu.
Bissu adalah kaum pendeta yang tidak tergolong laki-laki maupun perempuan, melainkan memadukan keduanya.
Mereka dianggap separuh manusia dan separuh dewa, berperan sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia spiritual.
Di masa lampau, Bissu berperan sebagai penasihat spiritual kerajaan dan satu-satunya yang dapat berkomunikasi dengan dewa melalui ritual khusus, menggunakan bahasa langit Basa Torilangi.
Dalam kosmologi Bugis, terdapat tiga dunia: Botting Langik (Dunia Atas), Kale Lino (Dunia Tengah), dan Paratiki (Dunia Bawah). Ketiga dunia ini saling berkaitan, dan Bissu menjadi penghubung di antara mereka.
Meski jumlah Bissu saat ini semakin berkurang, generasi Bissu di Segeri terus merawat tradisi ini dengan penuh dedikasi.
Mereka percaya bahwa peran mereka menebar kasih sayang dan menjaga keseimbangan alam di sekitarnya.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah bulan November, ketika diadakan upacara Mappalili, ritual menyambut musim tanam.
Upacara ini dipimpin oleh para Bissu yang membacakan mantra Matesu Arajang untuk memohon restu Dewata agar panen berjalan baik.
Masyarakat Bugis Pangkep memandang acara ini sangat sakral dan terus melestarikannya hingga kini.
Mengunjungi Segeri memberi pengalaman wisata budaya yang langka: tidak hanya melihat rumah adat dan pusaka, tetapi juga menyaksikan kehidupan spiritual Bissu, memahami kosmologi Bugis, dan merasakan langsung kedalaman tradisi yang telah dijaga berabad-abad.
Kawasan ini menawarkan perpaduan unik antara budaya, spiritualitas, dan keindahan alam Sulawesi Selatan.