Categories: Travel

Ekowisata Mangrove Lantebung, Ruang Belajar Alam dan Konservasi Pesisir Makassar

SulawesiPos.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, terselip satu destinasi wisata alam yang menawarkan suasana tenang sekaligus sarat edukasi, yaitu Ekowisata Mangrove Lantebung.

Berlokasi di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, kawasan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata.

Ekowisata Mangrove Lantebung hadir sebagai ruang hijau, laboratorium alam, sekaligus spot healing yang cocok untuk semua kalangan, dari pelajar, mahasiswa, hingga keluarga.

Daya tarik utama Lantebung tentu saja hamparan hutan mangrove yang masih asri. Pengunjung dapat menyusuri jalur tracking berupa jembatan kayu yang membelah rimbunnya mangrove, sambil menikmati udara segar dan panorama pesisir.

Di sepanjang jalur, pengunjung disuguhi pemandangan akar mangrove yang unik, burung-burung pesisir, hingga biota laut kecil yang hidup di sekitar kawasan. Suasana ini menjadikan Lantebung tempat yang pas untuk melepas penat tanpa harus keluar kota.

Wisata Edukasi dan Konservasi Lingkungan

Ekowisata Mangrove Lantebung juga dikenal sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat, khususnya pelajar, mahasiswa, dan komunitas pecinta lingkungan.

Ekowisata Lantebung

Kawasan ini kerap menjadi lokasi kegiatan edukasi ekosistem pesisir, mulai dari pengenalan jenis-jenis mangrove hingga pemahaman peran vital mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut.

Tak jarang, mahasiswa dari berbagai kampus, komunitas lingkungan, hingga relawan melakukan aksi nyata berupa penanaman mangrove di area ini.

Kegiatan tersebut biasanya dibarengi dengan diskusi lingkungan, kampanye pelestarian alam, serta praktik konservasi berkelanjutan.

Aktivitas penanaman mangrove ini bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga wilayah pesisir dari abrasi dan perubahan iklim.

Dengan konsep ekowisata berbasis edukasi dan partisipasi publik, Lantebung tumbuh sebagai simbol kolaborasi antara alam, akademisi, komunitas, dan masyarakat lokal.

Spot Favorit Fotografi

Bagi pencinta fotografi dan konten kreator, Lantebung menawarkan banyak spot foto estetik berlatar mangrove, laut, dan langit pesisir Makassar.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi dan sore hari, saat cahaya matahari menciptakan nuansa dramatis dan menenangkan.

Selain itu, kawasan ini juga ramah untuk wisata keluarga. Jalur tracking yang relatif aman serta suasana alam yang sejuk membuat pengunjung betah berlama-lama.

Peran Masyarakat Lokal

Pengelolaan Ekowisata Mangrove Lantebung melibatkan masyarakat setempat, baik dalam perawatan kawasan maupun pelayanan wisata.

Hal ini memberi dampak ekonomi positif sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan.

Keterlibatan warga menjadikan Lantebung tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga simbol kolaborasi antara alam, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Akses Menuju Lantebung

Ekowisata Mangrove Lantebung dapat diakses dengan kendaraan pribadi dari pusat Kota Makassar. Jaraknya sekitar 17 km dengan waktu tempuh 30 menit.

Meski fasilitas terus dibenahi, pengembangan berkelanjutan tetap dibutuhkan, mulai dari peningkatan sarana pendukung hingga promosi wisata yang lebih luas.

Dengan pengelolaan yang konsisten, Ekowisata Mangrove Lantebung berpotensi menjadi ikon wisata ekologi Makassar sekaligus ruang belajar terbuka tentang pentingnya menjaga alam pesisir.

Ekowisata Mangrove Lantebung adalah contoh nyata bahwa wisata tidak harus merusak alam. Di tempat ini, rekreasi, edukasi, dan konservasi berjalan beriringan.

Bagi siapa pun yang ingin menikmati sisi lain Makassar, yang tenang, hijau, dan penuh makna, Lantebung adalah destinasi yang wajib masuk daftar kunjungan.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: wisata sulsel lantebung ekowisata makassar