Categories: Travel

Menyusuri Jejak Sejarah Balla Lompoa Ri Gowa, Istana Raja yang Kini Jadi Museum Budaya

SulawesiPos.com — Balla Lompoa Ri Gowa bukan sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

Rumah panggung megah yang kini dikenal sebagai Museum Balla Lompoa itu merupakan saksi bisu perjalanan panjang Kerajaan Gowa hingga bertransformasi menjadi bagian dari pemerintahan modern.

Terletak di Jalan KH. Wahid Hasyim, Balla Lompoa dulunya adalah istana resmi Raja Gowa dan pusat pemerintahan kerajaan.

Dari bangunan inilah berbagai keputusan penting kerajaan pernah diambil sebelum akhirnya fungsi istana berubah seiring berakhirnya sistem monarki.

Dibangun sebagai Istana Raja Gowa

Balla Lompoa Ri Gowa dibangun pada 1936 sebagai kediaman Raja Gowa ke-36, I Mangi Mangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, yang bergelar Sultan Muhammad Tuhir Muhibuddin.

Pembangunan istana ini sekaligus menandai perubahan sistem pemerintahan Kerajaan Gowa pada masa orderofdeling, ketika Gowa terbagi dalam 13 adat gemeenschaps.

Sebelum Balla Lompoa berdiri, pusat aktivitas pemerintahan kerajaan berada tak jauh dari lokasi sekarang, tepatnya di kawasan yang kini menjadi bekas kantor Bupati Gowa dan telah berubah menjadi deretan ruko.

Setelah Raja Gowa ke-35 wafat pada 1946, tampuk kekuasaan beralih kepada putranya, Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang.

Ia kemudian dikenal sebagai Raja Gowa terakhir dengan gelar Sultan Muhammad Abdul Qadir Aididdin.

Di masa pemerintahannya, sistem swapraja berubah menjadi swatantra, seiring pembentukan daerah otonom tingkat II.

Andi Ijo pun tercatat sebagai Kepala Daerah Tingkat II Gowa pertama berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri pada 6 Februari 1957.

Jabatannya berakhir pada 1960. Ia wafat pada 9 Januari 1978 dan dimakamkan di Jongaya, dekat kompleks makam raja-raja Gowa di Katangka.

Dari Istana Menjadi Museum

Berakhirnya sistem Kerajaan Gowa otomatis mengubah fungsi Balla Lompoa.

Melalui Surat Keputusan Bupati Gowa Nomor 77/AU/1973 tertanggal 11 Desember 1973, bangunan ini resmi dialihfungsikan menjadi museum.

Selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah kerajaan, Museum Balla Lompoa juga difungsikan sebagai pusat kebudayaan Makassar-Gowa.

Di kawasan ini pula berdiri Baruga Tamalate, bangunan adat berukuran lebih besar yang biasa digunakan untuk kegiatan adat dan budaya.

Filosofi Rumah Adat dan Kosmologi Gowa

Balla Lompoa tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga sarat makna filosofis dan religius.

Bangunan ini mencerminkan pandangan kosmologi masyarakat Gowa yang berpegang pada falsafah Sulapa’ Appa’, konsep empat unsur kehidupan: tanah, air, api, dan angin.

Falsafah tersebut tergambar dalam bentuk bangunan bersegi empat, jumlah tiang, pintu, jendela, hingga susunan ruang yang dianalogikan dengan tubuh manusia.

Rumah adat Gowa dipandang memiliki “tubuh”, mulai dari kepala, badan, hingga kaki, yang masing-masing diwujudkan dalam pembagian ruang.

Balla Lompoa juga dibangun sebagai rumah panggung dengan tiga susunan kosmos: dunia atas (loteng/pammakkang), dunia tengah (badan rumah/kale balla), dan dunia bawah (kolong/passiringan).

Detail Arsitektur Penuh Makna

Bangunan Balla Lompoa memiliki ukuran 32 x 20 meter dengan tinggi sekitar 7 meter dan terdiri dari 10 petak kamar.

Bubungan atapnya berjumlah lima susun, anak tangga 13 buah, tiang 79 buah, jendela 27 buah, serta pintu 11 buah, seluruhnya menggunakan angka ganjil yang diyakini membawa keseimbangan dan keberkahan.

Tinggi kolong rumah ditentukan berdasarkan ukuran tubuh manusia, dan kolong tersebut difungsikan sebagai tempat aktivitas seperti menenun, menumbuk padi, hingga memelihara ternak.

Bahkan, penentuan arah bangunan dan waktu pendiriannya pun mengikuti perhitungan adat yang ketat.

Kini, Museum Balla Lompoa menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Gowa.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Balla Lompoa adalah simbol identitas, filosofi hidup, serta peradaban masyarakat Gowa yang terus dijaga lintas generasi. (tar)

Admin

Share
Published by
Admin
Tags: Balla Lompoa Kerajaan Gowa Museum Gowa