Falsafah tersebut tergambar dalam bentuk bangunan bersegi empat, jumlah tiang, pintu, jendela, hingga susunan ruang yang dianalogikan dengan tubuh manusia.
Rumah adat Gowa dipandang memiliki “tubuh”, mulai dari kepala, badan, hingga kaki, yang masing-masing diwujudkan dalam pembagian ruang.
Balla Lompoa juga dibangun sebagai rumah panggung dengan tiga susunan kosmos: dunia atas (loteng/pammakkang), dunia tengah (badan rumah/kale balla), dan dunia bawah (kolong/passiringan).
Detail Arsitektur Penuh Makna
Bangunan Balla Lompoa memiliki ukuran 32 x 20 meter dengan tinggi sekitar 7 meter dan terdiri dari 10 petak kamar.
Bubungan atapnya berjumlah lima susun, anak tangga 13 buah, tiang 79 buah, jendela 27 buah, serta pintu 11 buah, seluruhnya menggunakan angka ganjil yang diyakini membawa keseimbangan dan keberkahan.
Tinggi kolong rumah ditentukan berdasarkan ukuran tubuh manusia, dan kolong tersebut difungsikan sebagai tempat aktivitas seperti menenun, menumbuk padi, hingga memelihara ternak.
Bahkan, penentuan arah bangunan dan waktu pendiriannya pun mengikuti perhitungan adat yang ketat.
Kini, Museum Balla Lompoa menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Gowa.
Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Balla Lompoa adalah simbol identitas, filosofi hidup, serta peradaban masyarakat Gowa yang terus dijaga lintas generasi. (tar)

