27 C
Makassar
18 January 2026, 19:12 PM WITA

Menyusuri Jejak Sejarah Balla Lompoa Ri Gowa, Istana Raja yang Kini Jadi Museum Budaya

Di masa pemerintahannya, sistem swapraja berubah menjadi swatantra, seiring pembentukan daerah otonom tingkat II.

Andi Ijo pun tercatat sebagai Kepala Daerah Tingkat II Gowa pertama berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri pada 6 Februari 1957.

Jabatannya berakhir pada 1960. Ia wafat pada 9 Januari 1978 dan dimakamkan di Jongaya, dekat kompleks makam raja-raja Gowa di Katangka.

Dari Istana Menjadi Museum

Berakhirnya sistem Kerajaan Gowa otomatis mengubah fungsi Balla Lompoa.

Melalui Surat Keputusan Bupati Gowa Nomor 77/AU/1973 tertanggal 11 Desember 1973, bangunan ini resmi dialihfungsikan menjadi museum.

Selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah kerajaan, Museum Balla Lompoa juga difungsikan sebagai pusat kebudayaan Makassar-Gowa.

Di kawasan ini pula berdiri Baruga Tamalate, bangunan adat berukuran lebih besar yang biasa digunakan untuk kegiatan adat dan budaya.

Filosofi Rumah Adat dan Kosmologi Gowa

Balla Lompoa tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga sarat makna filosofis dan religius.

Bangunan ini mencerminkan pandangan kosmologi masyarakat Gowa yang berpegang pada falsafah Sulapa’ Appa’, konsep empat unsur kehidupan: tanah, air, api, dan angin.

Baca Juga: 
Balla Lompoa: Sejarah, Arsitektur, dan Wisata Budaya di Sulawesi Selatan

Di masa pemerintahannya, sistem swapraja berubah menjadi swatantra, seiring pembentukan daerah otonom tingkat II.

Andi Ijo pun tercatat sebagai Kepala Daerah Tingkat II Gowa pertama berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri pada 6 Februari 1957.

Jabatannya berakhir pada 1960. Ia wafat pada 9 Januari 1978 dan dimakamkan di Jongaya, dekat kompleks makam raja-raja Gowa di Katangka.

Dari Istana Menjadi Museum

Berakhirnya sistem Kerajaan Gowa otomatis mengubah fungsi Balla Lompoa.

Melalui Surat Keputusan Bupati Gowa Nomor 77/AU/1973 tertanggal 11 Desember 1973, bangunan ini resmi dialihfungsikan menjadi museum.

Selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah kerajaan, Museum Balla Lompoa juga difungsikan sebagai pusat kebudayaan Makassar-Gowa.

Di kawasan ini pula berdiri Baruga Tamalate, bangunan adat berukuran lebih besar yang biasa digunakan untuk kegiatan adat dan budaya.

Filosofi Rumah Adat dan Kosmologi Gowa

Balla Lompoa tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga sarat makna filosofis dan religius.

Bangunan ini mencerminkan pandangan kosmologi masyarakat Gowa yang berpegang pada falsafah Sulapa’ Appa’, konsep empat unsur kehidupan: tanah, air, api, dan angin.

Baca Juga: 
Taman Nasional Bantimurung, Negeri Kupu-Kupu dan Karst Megah di Maros Sulsel

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/