Di kawasan ini terdapat peninggalan bunker Jepang yang menjadi saksi masa pendudukan pada Perang Dunia II.
Warga setempat menyebutkan, awalnya terdapat sekitar tujuh bunker, meski kini sebagian besar telah tertimbun tanah.
Bunker tersebut memiliki tinggi sekitar 1,5 meter dan dahulu difungsikan sebagai tempat penyimpanan logistik sekaligus perlindungan tentara Jepang.
Kombinasi antara wisata alam, kerajinan tradisional, dan situs sejarah membuat Desa Wisata Lakkang kerap menarik minat wisatawan mancanegara, khususnya dari Jepang.
Selain melihat langsung bentuk bunker, mereka juga tertarik mempelajari proses pembuatan kerajinan bambu yang masih dilakukan secara manual oleh warga.
Dengan karakter tersebut, Desa Wisata Lakkang tidak hanya berfungsi sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga memiliki potensi sebagai lokasi konservasi dan pembelajaran.
Keberadaannya menjadi pilihan tepat untuk wisata keluarga maupun kegiatan edukatif, terutama bagi yang ingin merasakan suasana pedesaan tanpa harus meninggalkan pusat Kota Makassar.
Meski lokasinya tidak jauh dari kawasan perkotaan dan Universitas Hasanuddin, Desa Lakkang menawarkan ketenangan yang kontras dengan kebisingan kota.
Inilah yang menjadikannya destinasi unik, tempat wisatawan bisa sejenak melambat, belajar dari alam dan sejarah, serta mengenal kearifan lokal masyarakat Makassar. (tar)

