Di sisi lain, atap tumpang tiga juga selaras dengan bentuk rumah adat Bugis-Makassar.
Perpaduan ini menegaskan bahwa Islam di Sulawesi Selatan berkembang tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
3. Soko Guru sebagai Penopang Iman
Masjid Tua Katangka memiliki empat soko guru atau tiang utama yang berada di tengah bangunan.
Keempat tiang ini berfungsi sebagai penopang struktur sekaligus melambangkan kekuatan iman umat Muslim.
Material kayu uli yang digunakan pada soko guru mempertegas makna ketahanan dan keteguhan dalam beragama.
Secara visual, soko guru menciptakan keseimbangan ruang yang membuat suasana masjid terasa nyaman dan khusyuk.
Konsep ini menunjukkan bahwa arsitektur masjid tidak hanya soal bentuk, tetapi juga pengalaman spiritual jamaah.
4. Mihrab Sederhana Penuh Makna
Mihrab Masjid Tua Katangka dibuat sederhana tanpa ornamen berlebihan, berbeda dengan banyak masjid lain yang dihiasi ukiran rumit.
Kesederhanaan ini justru mencerminkan nilai utama dalam ajaran Islam yang menjunjung ketulusan dan fokus pada ibadah.

