Pada masa penjajahan Belanda, Masjid Tua Katangka juga menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin lokal untuk menjaga identitas dan kedaulatan Kerajaan Gowa.
Peran ini menjadikan masjid bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga simbol perlawanan dan keteguhan masyarakat Gowa dalam menghadapi kolonialisme.
Keterlibatannya dalam berbagai peristiwa penting membuat Masjid Tua Katangka memiliki nilai historis yang sangat kuat.
Arsitektur Masjid Tua Katangka yang Sarat Makna
Masjid Tua Katangka menampilkan perpaduan menarik antara arsitektur Islam dan tradisi lokal Bugis-Makassar.
Setiap elemen bangunan masjid ini tidak hanya berfungsi secara struktural, tetapi juga mengandung makna simbolis yang mendalam.
1. Material Lokal yang Tangguh
Salah satu ciri khas Masjid Tua Katangka adalah penggunaan kayu uli atau kayu besi sebagai bahan utama konstruksi.
Kayu ini dikenal sangat kuat, tahan terhadap cuaca lembap, serta serangan hama, sehingga cocok untuk bangunan jangka panjang.
Pemilihan kayu uli juga memiliki nilai simbolis karena mencerminkan ketahanan dan kekokohan iman masyarakat setempat.
Kayu uli digunakan pada tiang-tiang penopang utama masjid, menciptakan struktur yang kokoh namun tetap terlihat alami.
Penggunaan material lokal ini menunjukkan bagaimana arsitektur Islam di Nusantara mampu beradaptasi dengan lingkungan dan budaya setempat.
2. Atap Tumpang Tiga yang Ikonik
Salah satu bagian paling mencolok dari Masjid Tua Katangka adalah atap tumpang tiga yang tersusun semakin kecil ke atas.
Bentuk atap ini memberi kesan megah sekaligus melambangkan hubungan antara manusia dan Sang Pencipta.
Dalam tradisi Islam, desain yang menjulang ke atas kerap dimaknai sebagai simbol perjalanan spiritual menuju Tuhan.

