Karhutla 26 Hektare Dekati Gua Purba Maros-Pangkep, Lukisan 51.200 Tahun Terancam

SulawesiPos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, meluas sekitar 26 hektare hingga mendekati sejumlah gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep.

Api dan asap dikhawatirkan merusak lukisan cadas berusia puluhan ribu tahun, meski titik kebakaran tidak selalu bersentuhan langsung dengan dinding gua.

Api yang semula terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng dilaporkan merembet ke Gunung Arung Sabila, Kecamatan Minasatene.

Kebakaran kemudian memasuki zona rimba dan zona inti taman nasional.

Sejumlah titik api disebut berada hanya beberapa meter dari mulut gua. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap situs yang menyimpan gambar hewan dan cap tangan prasejarah.

Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, mengatakan panas kebakaran dapat mengubah suhu batuan kapur dan mempercepat pelapukan permukaan gua.

“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi, terutama yang mengandung gambar cadas, pasti akan sangat merusak gambar itu,” kata Basran, Rabu (14/10/2026).

BACA JUGA:  6 Perusahaan Disanksi Imbas Karhutla di Kalbar, 1 Izin Dibekukan

Menurut Basran, perubahan suhu yang ekstrem dapat memicu retakan hingga pengelupasan lapisan batu tempat lukisan berada. Jika api menyentuh dinding gua secara langsung, batuan berpotensi pecah dan lapisan gambar dapat rusak.

Asap juga membawa ancaman tersendiri. Partikel karbon dari kebakaran dapat menempel sebagai jelaga, mengaburkan bentuk gambar dan menutupi warna asli pigmen.

“Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” ujarnya.

Kawasan karst Maros-Pangkep memiliki sekitar 734 situs prasejarah.

Lebih dari 400 situs di antaranya disebut menyimpan lukisan cadas, termasuk lukisan yang diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun.

Upaya pemadaman menghadapi medan karst yang terjal, akses yang terbatas, angin kencang, serta sumber air yang tidak mudah dijangkau.

Manggala Agni bersama TNI, Polri, pengelola taman nasional, relawan, dan masyarakat dikerahkan menggunakan pompa air, selang, alat pemadam punggung, serta sekat bakar.

Prakirawan BMKG Sulawesi Selatan Nur Rahmi Utami menyebut Maros dan Pangkep masih berada dalam periode kemarau.

BACA JUGA:  Cegah Karhutla, BBKSDA Sulsel Perkuat Patroli di TWA Cani Sirenreng Bone

Suhu di wilayah tersebut diprakirakan berada pada kisaran 25-36 derajat Celsius, dengan cuaca tiga hingga tujuh hari ke depan didominasi cerah hingga cerah berawan.

Angin kencang berpotensi mempercepat penjalaran api dan membawa asap ke wilayah sekitar.

Petugas karena itu memprioritaskan pengendalian titik api, keselamatan personel, dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke permukiman.

Basran menyebut kebakaran serupa pernah terjadi di kawasan tersebut pada 2014 dan 2015.

Ia mendorong penguatan mitigasi, termasuk pencegahan kebakaran dan penghijauan dengan tanaman lokal untuk menjaga suhu serta kelembapan mikro di sekitar gua.

Karst Maros-Pangkep juga tengah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Kebakaran yang berulang menjadi tantangan bagi perlindungan ekosistem sekaligus pelestarian situs arkeologi di kawasan tersebut.

SulawesiPos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, meluas sekitar 26 hektare hingga mendekati sejumlah gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep.

Api dan asap dikhawatirkan merusak lukisan cadas berusia puluhan ribu tahun, meski titik kebakaran tidak selalu bersentuhan langsung dengan dinding gua.

Api yang semula terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng dilaporkan merembet ke Gunung Arung Sabila, Kecamatan Minasatene.

Kebakaran kemudian memasuki zona rimba dan zona inti taman nasional.

Sejumlah titik api disebut berada hanya beberapa meter dari mulut gua. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap situs yang menyimpan gambar hewan dan cap tangan prasejarah.

Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, mengatakan panas kebakaran dapat mengubah suhu batuan kapur dan mempercepat pelapukan permukaan gua.

“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi, terutama yang mengandung gambar cadas, pasti akan sangat merusak gambar itu,” kata Basran, Rabu (14/10/2026).

BACA JUGA:  IAS Minta Kader Golkar Tak Alergi Kritik, Fraksi Harus Jadi Ujung Tombak

Menurut Basran, perubahan suhu yang ekstrem dapat memicu retakan hingga pengelupasan lapisan batu tempat lukisan berada. Jika api menyentuh dinding gua secara langsung, batuan berpotensi pecah dan lapisan gambar dapat rusak.

Asap juga membawa ancaman tersendiri. Partikel karbon dari kebakaran dapat menempel sebagai jelaga, mengaburkan bentuk gambar dan menutupi warna asli pigmen.

“Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” ujarnya.

Kawasan karst Maros-Pangkep memiliki sekitar 734 situs prasejarah.

Lebih dari 400 situs di antaranya disebut menyimpan lukisan cadas, termasuk lukisan yang diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun.

Upaya pemadaman menghadapi medan karst yang terjal, akses yang terbatas, angin kencang, serta sumber air yang tidak mudah dijangkau.

Manggala Agni bersama TNI, Polri, pengelola taman nasional, relawan, dan masyarakat dikerahkan menggunakan pompa air, selang, alat pemadam punggung, serta sekat bakar.

Prakirawan BMKG Sulawesi Selatan Nur Rahmi Utami menyebut Maros dan Pangkep masih berada dalam periode kemarau.

BACA JUGA:  Karhutla Kobar Makin Meluas, 859 Hektare Lahan Terbakar dan Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Suhu di wilayah tersebut diprakirakan berada pada kisaran 25-36 derajat Celsius, dengan cuaca tiga hingga tujuh hari ke depan didominasi cerah hingga cerah berawan.

Angin kencang berpotensi mempercepat penjalaran api dan membawa asap ke wilayah sekitar.

Petugas karena itu memprioritaskan pengendalian titik api, keselamatan personel, dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke permukiman.

Basran menyebut kebakaran serupa pernah terjadi di kawasan tersebut pada 2014 dan 2015.

Ia mendorong penguatan mitigasi, termasuk pencegahan kebakaran dan penghijauan dengan tanaman lokal untuk menjaga suhu serta kelembapan mikro di sekitar gua.

Karst Maros-Pangkep juga tengah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Kebakaran yang berulang menjadi tantangan bagi perlindungan ekosistem sekaligus pelestarian situs arkeologi di kawasan tersebut.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru