Kategori: Sulsel

122 Hari Tak Diguyur Hujan, Hampir 300 Ribu Warga Maros Terdampak Kekeringan

SulawesiPos.com — Kekeringan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), semakin meluas setelah sebagian wilayah daerah tersebut tercatat sudah sekitar 122 hari tidak diguyur hujan.

Kondisi ini membuat hampir 300 ribu jiwa di Maros kini terdampak kekeringan. Pemerintah daerah pun terus menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Hingga Rabu (7/10/2026), sebanyak 12 dari 14 kecamatan di Maros telah terdampak kekeringan dan mendapat intervensi penanganan.

Kepala BPBD Maros Towadeng mengatakan, dari 12 kecamatan tersebut, tujuh kecamatan bahkan sudah terdampak secara keseluruhan.

Tujuh wilayah itu yakni Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru, Mandai, Marusu, Moncongloe, dan Tanralili.

“Di tujuh kecamatan ini, seluruh wilayahnya sudah terdampak kekeringan. Jumlah penduduknya capai 253.389 jiwa,” kata Towadeng.

Sementara itu, lima kecamatan lainnya masih terdampak di sebagian wilayah. Kelima daerah tersebut yakni Simbang, Bantimurung, Turikale, Cenrana, dan Tompobulu.

“Lima kecamatan ini masih berdampak sebagian wilayah saja, perkiraan ada sekitar 70 (ribu) jiwa yang kini terdampak,” bebernya.

Kondisi di Tompobulu juga mulai membutuhkan perhatian karena sejumlah wilayah, termasuk pesantren, mengalami kesulitan air.

“Termasuk Tompobulu sudah kita intervensi, terutama ada beberapa daerah dan pesantren yang membutuhkan air,” ujarnya.

Dengan meluasnya dampak kekeringan, kini hanya tersisa dua kecamatan di Maros yang belum masuk wilayah terdampak, yakni Camba dan Mallawa.

Lebih dari 5 Juta Liter Air Disalurkan

Untuk mengatasi kebutuhan air warga, BPBD Maros telah melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.

Mantan Sekretaris DPRD Maros itu menuturkan, lebih dari 5 juta liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat.

Air tersebut didistribusikan menggunakan lebih dari 1.000 tangki.

Saat ini, rata-rata 30 hingga 31 tangki air dikerahkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Jumlah armada tersebut dapat meningkat hingga 35 tangki apabila permintaan air bersih dari masyarakat bertambah.

“Sudah lebih dari 5 juta liter. Sudah ada lebih dari 1.000 tangki,” katanya.

Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Bontoa menjadi daerah yang mendapat distribusi air bersih paling banyak.

Sedikitnya delapan tangki air bersih disalurkan ke Bontoa setiap hari.

Distribusi air juga cukup banyak dilakukan di Kecamatan Lau dan Maros Baru.

Khusus di Kecamatan Lau, sedikitnya empat tangki air bersih disalurkan setiap hari.

Maros Sudah 122 Hari Minim Hujan

Kekeringan yang meluas tersebut terjadi di tengah kondisi sebagian wilayah Maros yang sudah sekitar 122 hari tidak diguyur hujan.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel Syamsul Bahri mengatakan musim kemarau masih berlangsung di sebagian wilayah Maros.

BMKG Sulsel memprediksi musim hujan baru mulai pada November pekan ketiga atau Desember pekan pertama.

Meski demikian, hujan masih berpotensi turun sebelum periode tersebut.

“Meski demikian, hujan tetap berpotensi turun sebelum periode tersebut,” kata Syamsul, Selasa (6/10/2026).

Syamsul menjelaskan, awal musim hujan tidak berarti hujan baru akan turun setelah November atau Desember.

Awal musim hujan ditandai dengan frekuensi hujan yang semakin meningkat dan wilayah yang terdampak hujan semakin luas.

Menurutnya, keterlambatan musim hujan tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino.

Berdasarkan pemantauan BMKG, El Nino masih memberikan pengaruh hingga melewati pergantian tahun.

Fenomena tersebut diperkirakan berada pada level sedang hingga lemah sampai sekitar Maret 2027.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti Maros akan mengalami kemarau hingga April.

“Hujan tetap ada di bulan November dan Desember, hanya saja dampak dari El Nino ini membuat awal musim hujan jadi mundur dan durasi musim hujannya menjadi lebih pendek,” jelasnya.

Musim hujan di Maros diperkirakan mulai memasuki masa peralihan pada Maret atau April.

Waktu berakhirnya musim hujan tersebut diperkirakan hampir sama dengan tahun sebelumnya.

Perbedaannya terletak pada waktu awal musim hujan yang tahun ini datang lebih lambat.

“Biasanya, Oktober sudah mulai memasuki masa peralihan dan hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Namun, hujan pada periode tersebut belum terjadi secara merata,” bebernya.

Yaslinda Utari

Bagikan
Diterbitkan oleh
Yaslinda Utari
Tag: kekeringan sulsel Maros kekeringan BPBD Maros