Aris Sanda alias Bapak Tasya (19) asal Toraja Utara yang selama 13 tahun mengantar logistik ke pedalaman Papua. Ia tewas setelah disandera kelompok bersenjata di jalur Wamena-Mbua. Jenazahnya dipulangkan ke Toraja hari ini Jumat (18/9/2026). dok/ist
SulawesiPos.com — Duka menyelimuti keluarga Aris Sanda, sopir asal Toraja Utara yang tewas dalam insiden kekerasan di kawasan Danau Habema, Papua Pegunungan.
Jenazah Aris dijadwalkan dipulangkan ke Toraja pada Jumat (18/9/2026), setelah sebelumnya dievakuasi dari wilayah Papua Pegunungan.
Aris merupakan warga Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara.
Ia selama bertahun-tahun bekerja sebagai sopir angkutan lajuran yang melayani perjalanan dan pengangkutan logistik di wilayah pedalaman Papua.
Insiden yang menewaskan Aris terjadi pada Selasa (15/9/2026).
Saat itu, Aris sedang membawa penumpang dan logistik dari Wamena menuju Mbua.
Rombongan tersebut kemudian dihentikan oleh kelompok bersenjata sekitar pukul 06.00 WIT.
Para penumpang diminta kembali ke Wamena, sementara Aris dibawa menuju kawasan Danau Habema.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna menyebut Aris merupakan warga sipil yang sedang menjalankan pekerjaan untuk melayani masyarakat.
“Korban sedang bekerja membawa logistik dan melayani transportasi masyarakat menuju pedalaman. Orang-orang yang bekerja membantu kehidupan masyarakat seharusnya dapat menjalankan tugasnya dengan aman dan tidak menjadi korban kekerasan,” ujar Wirya dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Tim gabungan kemudian menemukan kendaraan yang digunakan Aris dalam kondisi terbakar di sekitar Danau Habema.
Jenazah korban ditemukan di dalam kendaraan tersebut.
Koops TNI Habema menyebut insiden tersebut melibatkan kelompok bersenjata yang diidentifikasi sebagai OPM Kodap III Ndugama.
Keterangan tersebut merupakan versi aparat keamanan terkait pelaku dalam insiden tersebut.
Aris dikenal sebagai salah satu sopir yang melayani jalur Trans Wamena-Nduga.
Pekerjaannya membuat Aris harus melintasi jalur dengan medan berat untuk membawa penumpang maupun kebutuhan logistik masyarakat.
Laporan media lokal menyebut Aris telah sekitar 13 tahun menjalani pekerjaan tersebut.
Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menyebut para sopir yang melayani wilayah pedalaman memiliki peran penting bagi aktivitas masyarakat di kawasan Nduga.
“Ketika satu nyawa pengemudi jujur seperti Aris Sanda dihilangkan secara keji, sejatinya urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di tiga distrik Nduga seolah ikut terhenti,” kata Lucky dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Bagi keluarga di Toraja Utara, kepergian Aris meninggalkan duka mendalam setelah bertahun-tahun bekerja jauh dari kampung halaman.
Ibu Aris, Elisabet Salasa, mengenang komunikasi terakhir dengan anaknya sebelum insiden tersebut.
“Dia bilang, tunggu Mama, nanti saya pulang, kita berkumpul,” kata Elisabet, Kamis (17/9/2026).
Istri Aris, Sinta Bilolo, diketahui bekerja sebagai guru di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga.
Setelah suaminya meninggal, Sinta bersama dua pendamping, Haryati dan Murni, dievakuasi dari Mbua menuju Kenyam menggunakan helikopter TNI.
Dari Kenyam, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Wamena menggunakan pesawat Caravan.
Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengatakan evakuasi dilakukan karena akses darat belum memungkinkan.
“Ibu Sinta sedang dalam suasana duka dan membutuhkan perjalanan yang aman. Ketika akses darat belum memungkinkan, saya perintahkan jajaran memberikan bantuan evakuasi udara agar beliau bersama pendamping dapat sampai ke Wamena dengan selamat,” kata Riyanto.
Setelah berada di Wamena, jenazah Aris dipersiapkan untuk dipulangkan ke kampung halamannya di Toraja Utara.
Rencana pemulangan jenazah Aris pada Jumat (18/9/2026) menjadi momen penting bagi keluarga di Toraja Utara.
Informasi yang diperoleh menyebut jenazah akan menempuh perjalanan dari Wamena menuju Jayapura, kemudian diterbangkan ke Makassar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Toraja.
Kepulangan Aris sekaligus mengakhiri perjalanan panjangnya sebagai perantau yang bekerja di Papua.
Keluarga kini menanti kedatangan jenazah untuk kemudian membawanya ke kampung halaman di Toraja Utara.