Antrean panjang di sejumlah SPBU Bone membuat harga Pertalite eceran naik hingga Rp20 ribu per botol, Kamis (17/9/2026).
SulawesiPos.com – Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Bone mulai berdampak ke harga Pertalite di tingkat pengecer.
Di tengah sulitnya mendapatkan BBM tanpa harus mengantre panjang, Pertalite eceran kini dijual hingga Rp20 ribu per botol.
Kondisi ini membuat sebagian pengendara mengaku berada dalam posisi serba sulit. Mengantre di SPBU membutuhkan waktu cukup lama, sementara membeli BBM eceran berarti harus membayar dengan harga lebih tinggi.
“Kalau antreannya panjang begini, bisa lama sekali baru dapat giliran. Padahal kita mau bekerja dan harus segera berangkat. Terpaksa cari eceran meskipun harganya lebih mahal,” keluh Imran seorang pengendara, Kamis (17/9/2026).
Pengendara lainnya berharap, kondisi antrean segera teratasi. Ia mengaku, kondisi ini tak hanya terjadi di Bone tetapi hampir di semua kabupaten.
“Kemarin saya ke Makassar, lebih parah lagi antriannya. Di Maros juga begitu. Bahkan ada teman yang harus menitip kendaraannya di Makassar, lalu naik mobil angkutan umum ke Bone,” tukasnya.
Sementara itu, pedagang Pertalite eceran mengaku kenaikan harga bukan semata-mata karena ingin mengambil keuntungan lebih besar. Mereka menyebut tingginya permintaan saat antrean SPBU terjadi membuat stok yang tersedia lebih cepat habis.
Ditambah, lanjutnya, sulitnya mendapatkan pertalite di SPBU.
“Bayangkan, saya sudah ikut antri sejak subuh untuk mendapatkan BBM Subsidi,” ujarnya.
Pedagang tersebut mengatakan, harga jual dapat berbeda tergantung ukuran botol dan lokasi. Namun, saat ini harga Pertalite eceran disebut bisa mencapai Rp20 ribu per botol.
“Kami juga berharap antrean di SPBU segera normal. Kalau SPBU lancar, pembeli eceran juga biasanya berkurang,” ujarnya.
Sebelumnya Pertamina melalui Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar mengatakan, untuk mengatasi kebutuhan yang meningkat, pihaknya menambah alokasi BBM sekitar 10–15 persen dari rata-rata penyaluran harian di wilayah yang membutuhkan.
Pertamina juga menerapkan marshalling di SPBU yang mengalami antrean padat. Melalui langkah ini, kendaraan diarahkan menuju SPBU lain yang kondisi antreannya lebih landai.
Pertamina juga memperketat pengawasan terhadap pembelian BBM bersubsidi. Sebanyak 6.023 nomor polisi telah diblokir karena terindikasi melakukan transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan penyaluran BBM bersubsidi. Pengawasan transaksi masih diperkuat agar penyaluran BBM subsidi tetap tepat sasaran. (kar)