Audiensi jajaran PT ASDP Indonesia Ferry bersama pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Bone dengan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., di Rumah Jabatan Bupati Bone, Rabu (19/8/2026).
SulawesiPos.com — Kabar baik bagi masyarakat dan pelaku usaha pengguna jalur penyeberangan Bajoe–Kolaka. Pemerintah Kabupaten Bone bersama PT ASDP Indonesia Ferry tengah mendorong penambahan armada kapal feri berkapasitas besar untuk memperkuat konektivitas Sulawesi Selatan–Sulawesi Tenggara.
Rencana tersebut mencuat dalam audiensi jajaran PT ASDP Indonesia Ferry bersama pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Bone dengan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., di Rumah Jabatan Bupati Bone, Rabu (19/8/2026).
Tak sekadar menambah armada, kapal yang diproyeksikan melayani lintasan Bajoe–Kolaka ini memiliki ukuran yang tergolong besar, yakni panjang sekitar 96 meter, lebar 16 meter, dan terdiri atas dua lantai.
Kehadiran kapal tersebut diharapkan menjadi jawaban atas persoalan antrean kendaraan yang selama ini kerap terjadi di Pelabuhan Bajoe sekaligus memperlancar distribusi logistik antarpulau.
General Manager ASDP Bajoe, Anom Sedayu Panatagama, mengatakan penambahan armada merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan penyeberangan.
“Memperlancar logistik. Selama ini di pelabuhan sering ada penumpukan, kekurangan armada. Tujuannya supaya logistik yang selama ini terhambat bisa semakin lebih lancar,” ujarnya.
Menurut Anom, kebutuhan armada tambahan juga menjadi aspirasi masyarakat yang selama ini merasakan langsung dampak keterbatasan kapasitas penyeberangan.
Kondisi tersebut bahkan menjadi perhatian Bupati Bone setelah melihat langsung antrean kendaraan di kawasan Pelabuhan Bajoe.
“Ke depan supaya transportasi dan sebaran logistik itu bisa lebih lancar antara dari Selatan ke Tenggara,” jelasnya.
Saat ini terdapat sekitar sembilan kapal yang tercatat melayani kebutuhan penyeberangan di Pelabuhan Bajoe.
Namun, dalam kondisi tertentu hanya sekitar lima kapal yang dapat beroperasi.
Keterbatasan armada aktif tersebut berdampak pada kapasitas angkut dan berpotensi menimbulkan antrean kendaraan, terutama ketika volume pengguna jasa meningkat.
Karena itu, ASDP menyiapkan langkah untuk menghadirkan armada tambahan di lintasan Bajoe–Kolaka.
Kehadiran kapal ASDP ini diharapkan bukan hanya meningkatkan mobilitas penumpang, tetapi juga memperkuat jalur distribusi barang dan kendaraan dari Sulawesi Selatan menuju Sulawesi Tenggara maupun sebaliknya.
Rencana tersebut mendapat dukungan penuh dari Bupati Bone Andi Asman Sulaiman.
Anom mengatakan, Bupati Bone menyambut baik setiap langkah yang berorientasi pada peningkatan pelayanan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Beliau mendukung. Intinya kan untuk peningkatan pelayanan. Sepanjang itu memang untuk kebaikan masyarakat dan meningkatkan pelayanan, maka beliau juga pasti mendukung,” katanya.
Bupati Bone juga mendorong agar rencana tersebut tidak berhenti pada pembahasan di tingkat daerah, tetapi terus dikawal hingga ke kementerian terkait.
Ketua Komisi III DPRD Bone, Indra Jaya, mengungkapkan bahwa penambahan armada tersebut merupakan bagian dari perhatian serius Bupati Bone terhadap kondisi Pelabuhan Bajoe.
Ia menyebut, saat peresmian dermaga ASDP sebelumnya, Bupati Bone telah menyampaikan pentingnya penambahan armada.
Perhatian itu semakin kuat setelah Bupati melihat langsung antrean kendaraan di Pelabuhan Bajoe.
“Pak Bupati melihat lagi penumpukan kendaraan. Sehingga beliau menginstruksikan kepada GM ASDP untuk penambahan armada di Pelabuhan Bajoe,” kata Indra.
Menurutnya, audiensi bersama ASDP menjadi langkah konkret untuk memastikan aspirasi tersebut ditindaklanjuti.
Indra berharap kapal tambahan tersebut dapat mulai direalisasikan pada awal September 2026.
Pelabuhan Bajoe selama ini menjadi salah satu simpul penting pergerakan masyarakat, kendaraan dan logistik yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tenggara.
Karena itu, penambahan kapal feri berkapasitas besar dinilai memiliki dampak lebih luas. Jika kapasitas angkut meningkat, antrean kendaraan dapat ditekan, waktu tunggu pengguna jasa bisa dipangkas, sementara distribusi barang antardaerah menjadi lebih cepat.
Bagi pelaku usaha, kelancaran jalur Bajoe–Kolaka juga berarti efisiensi waktu dan biaya distribusi.
Sementara bagi masyarakat, kehadiran armada tambahan memberikan harapan akan layanan penyeberangan yang lebih cepat, nyaman dan mampu mengantisipasi lonjakan penumpang maupun kendaraan.
Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Bone, DPRD Bone dan ASDP, rencana kehadiran kapal berukuran besar tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat posisi Pelabuhan Bajoe sebagai pintu konektivitas dan distribusi logistik di kawasan Indonesia Timur.
Jika terealisasi, awal September 2026 bisa menjadi momentum baru bagi Bajoe–Kolaka: armada bertambah, antrean berkurang, logistik semakin lancar, dan konektivitas Sulawesi Selatan–Sulawesi Tenggara semakin kuat. (kar)