Categories: Sulsel

Cermin Makeup Jadi Penyelamat Lima Korban KM Nurul Salsa, Pantulan Cahaya Berhasil Tarik Perhatian Kapal Nelayan

SulawesiPos.com – Sebuah cermin makeup berukuran kecil menjadi penentu hidup lima penyintas tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Setelah empat hari empat malam terombang-ambing di Laut Flores, pantulan cahaya dari cermin tersebut berhasil menarik perhatian kapal nelayan yang melintas hingga seluruh korban akhirnya dapat diselamatkan.

Peristiwa dramatis itu terjadi pada Sabtu (18/7/2026), ketika kondisi lima korban yang bertahan di atas selembar papan gabus semakin kritis. Mereka sudah kehabisan tenaga, mengalami dehidrasi, dan suara mereka nyaris tak lagi mampu terdengar setelah berhari-hari berteriak meminta pertolongan.

Di tengah situasi tersebut, Bau Asseng (23) teringat sebuah cermin makeup kecil yang masih tersimpan di dalam tas yang dibawanya sejak kapal tenggelam.

Cermin itu kemudian diarahkan ke matahari untuk memantulkan cahaya ke arah kapal yang terlihat melintas di kejauhan.

Upaya sederhana itu membuahkan hasil.

Kilatan cahaya dari cermin berhasil dilihat awak KMN Sinar Mattoangin 04, kapal nelayan asal Kabupaten Bulukumba, yang kemudian memutar haluan menuju sumber pantulan cahaya.

Tak lama kemudian, lima korban yang terapung di Laut Flores berhasil dievakuasi ke atas kapal dalam kondisi lemah setelah bertahan hidup selama empat hari empat malam.

Kelima korban yang berhasil diselamatkan yakni Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17).

Seluruhnya kini menjalani perawatan di RSUD KH Hayyung Selayar akibat kondisi fisik yang menurun setelah berhari-hari terpapar panas matahari dan gelombang laut.

Harapan Terakhir di Tengah Laut

Sebelum cermin itu digunakan, para korban terus berharap ada kapal yang melintas.

Bahkan, dua korban lain, yaitu ayah dan ibu Diska sempat bersama mereka sebelum sang ayah terseret ombak besar pada hari kedua.

Sementara itu, ibu Diska meninggal dunia pada hari ketiga akibat kelelahan, para penyintas terpaksa melepasnya karena tubuhnya mulai membusuk.

Mereka berulang kali berteriak meminta tolong, namun suara yang mulai serak tidak mampu menjangkau kapal-kapal yang berada cukup jauh dari posisi mereka.

Dalam situasi nyaris tanpa harapan itulah, pada hari keempat, Bau Asseng memanfaatkan cermin kecil yang dibawanya sebagai alat pemberi sinyal darurat.

Cermin Sinyal sebagai Teknik Bertahan Hidup Darurat di Laut

Teknik memantulkan sinar matahari menggunakan cermin memang dikenal sebagai salah satu metode bertahan hidup di laut.

Pantulan cahaya dapat terlihat dari jarak yang jauh ketika diarahkan ke kapal maupun pesawat yang melintas, sehingga sering menjadi pilihan terakhir bagi korban yang tidak lagi memiliki alat komunikasi.

Keberhasilan metode tersebut menjadi titik balik bagi lima penyintas KM Nurul Salsa yang sebelumnya nyaris tak terlihat di tengah hamparan Laut Flores.

Hingga Selasa (21/7/2026), operasi pencarian korban KM Nurul Salsa masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di perairan Selayar. Penyisiran melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, nelayan, serta unsur pemerintah daerah untuk mencari korban yang masih dinyatakan hilang.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali memastikan seluruh biaya pengobatan lima korban selamat ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Seluruh biaya pengobatan korban selamat ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar,” pungkasnya.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: kapal tenggelam KM Nurul Salsa korban selamat Pencarian Korban