SulawesiPos.com – Pencarian terhadap dua mahasiswa yang terseret arus Sungai Kalimborang, Dusun Bahagia, Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, masih terus berlanjut hingga Senin (30/3/2026).
Kedua korban diketahui bernama Nur Azisa (20) dan Muh Fajrin (20), warga kawasan BTP, Makassar. Mereka dilaporkan hilang sejak Minggu (29/3/2026) setelah terseret arus sungai saat berwisata.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, menyampaikan bahwa upaya pencarian telah dilakukan sejak hari pertama kejadian dengan melibatkan tim gabungan.
“Pencarian sudah dimulai sejak kemarin sore oleh BPBD bersama tim SAR gabungan. Malam hari Basarnas juga sudah bergabung,” katanya di Lapangan Pallantikang.
Pencarian sempat dihentikan sementara pada Minggu malam sekitar pukul 19.00 Wita akibat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Operasi kemudian kembali dilanjutkan pada Senin pagi mulai pukul 07.00 Wita.
Debit Air Naik Mendadak, Tim Hadapi Cuaca Ekstrem
Towadeng menjelaskan, peristiwa tersebut bermula saat tujuh mahasiswa berkunjung ke lokasi wisata sungai. Saat itu, kondisi sungai awalnya tampak normal.
Namun secara tiba-tiba debit air meningkat drastis akibat hujan deras yang terjadi di wilayah pegunungan hulu.
“Awalnya mereka hanya berfoto-foto, tapi tiba-tiba datang air bah yang menyeret korban,” jelasnya.
Pada hari kedua pencarian, tim gabungan dibagi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU). Penyisiran dilakukan mulai dari titik awal korban dilaporkan hilang hingga ke hilir sungai dengan radius pencarian mencapai 3 kilometer.
Lebih dari 100 personel dikerahkan dalam operasi tersebut, yang terdiri dari BPBD Maros serta unsur SAR gabungan dan relawan.
Kendala utama dalam pencarian adalah intensitas hujan yang masih tinggi, menyebabkan debit air sungai meningkat dan kondisi air menjadi keruh.
“Ini membahayakan tim, sehingga pencarian bisa dihentikan sementara jika cuaca buruk,” kata Towadeng.
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di kawasan rawan bencana selama musim hujan.
Ia menegaskan bahwa wilayah Tompobulu merupakan salah satu daerah yang berpotensi terjadi air bah.
“Kami sudah minta agar lokasi rawan dipasang papan imbauan, bahkan jika perlu ditutup sementara saat musim hujan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap kedua mahasiswa tersebut masih terus dilakukan oleh tim gabungan bersama warga setempat.

