KUA Tetap Layani Pernikahan di Tengah WFA, Permintaan Meningkat Usai Lebaran

SulawesiPos.com – Layanan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) di Sulawesi Selatan dipastikan tetap berjalan normal meski aparatur sipil negara (ASN) tengah menjalani sistem kerja fleksibel pasca libur Idulfitri 1447 Hijriah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan diketahui menerapkan skema kerja Work From Anywhere (WFA) bagi ASN mulai Rabu-Jumat (25-27 Maret 2026).

Kebijakan ini memungkinkan pegawai bekerja dari rumah tanpa mengurangi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Di tengah penerapan sistem tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel menegaskan bahwa layanan pencatatan dan administrasi pernikahan tetap dibuka seperti biasa.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menyebut tingginya kebutuhan layanan pernikahan setelah Lebaran menjadi alasan utama layanan KUA tidak dihentikan.

Ia menjelaskan, masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi kuat melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal.

Momen ini dianggap masih membawa keberkahan setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Tradisi melaksanakan pernikahan pasca-Lebaran dalam masyarakat Bugis-Makassar di Sulsel selama ini kami lihat memang sangat marak,” katanya, Rabu (25/3/2026) dikutip dari Antara.

BACA JUGA: 
Kemenag Sulsel Ingatkan Jamaah Umrah: Luruskan Niat, Jangan Tergiur Biaya Murah

Selain itu, prosesi pernikahan dalam budaya Bugis-Makassar juga sarat dengan nilai adat dan makna simbolik.

“Tradisi pernikahan Bugis-Makassar pasca-Lebaran (Syawal) memang sering menjadi momen padat, menggabungkan sakralnya adat dengan berkah Lebaran,” tambahnya.

Tahapan seperti Mappacci, Mappenre Botting, Mappasikarawa, hingga Mapparola menjadi bagian penting yang mempererat hubungan keluarga sekaligus sebagai bentuk rasa syukur.

Meski ASN menjalankan pola kerja fleksibel, Kemenag memastikan pelayanan publik tetap menjadi prioritas.

Seluruh jajaran KUA diminta tetap siaga agar masyarakat tidak mengalami kendala dalam mengurus pernikahan.

Untuk mempermudah akses, layanan pendaftaran nikah kini juga dapat dilakukan secara daring melalui simkah4.kemenag.go.id.

Dengan fasilitas ini, masyarakat tidak harus datang langsung ke kantor untuk mengurus administrasi awal.

“Saya harap dengan sistem ini, masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan seperti hari kerja normal. Insyaallah aparatur kami siap memberikan layanan,” ucapnya.

Secara nasional, tren pernikahan pada bulan Syawal memang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada 2023-2025, data pencatatan pernikahan mencapai angka 667.000.

BACA JUGA: 
Pantau Hilal di Unismuh, Kemenag Sulsel Siapkan Data Penentuan Idul Fitri 2026

SulawesiPos.com – Layanan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) di Sulawesi Selatan dipastikan tetap berjalan normal meski aparatur sipil negara (ASN) tengah menjalani sistem kerja fleksibel pasca libur Idulfitri 1447 Hijriah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan diketahui menerapkan skema kerja Work From Anywhere (WFA) bagi ASN mulai Rabu-Jumat (25-27 Maret 2026).

Kebijakan ini memungkinkan pegawai bekerja dari rumah tanpa mengurangi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Di tengah penerapan sistem tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel menegaskan bahwa layanan pencatatan dan administrasi pernikahan tetap dibuka seperti biasa.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menyebut tingginya kebutuhan layanan pernikahan setelah Lebaran menjadi alasan utama layanan KUA tidak dihentikan.

Ia menjelaskan, masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi kuat melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal.

Momen ini dianggap masih membawa keberkahan setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Tradisi melaksanakan pernikahan pasca-Lebaran dalam masyarakat Bugis-Makassar di Sulsel selama ini kami lihat memang sangat marak,” katanya, Rabu (25/3/2026) dikutip dari Antara.

BACA JUGA: 
Pantau Hilal di Unismuh, Kemenag Sulsel Siapkan Data Penentuan Idul Fitri 2026

Selain itu, prosesi pernikahan dalam budaya Bugis-Makassar juga sarat dengan nilai adat dan makna simbolik.

“Tradisi pernikahan Bugis-Makassar pasca-Lebaran (Syawal) memang sering menjadi momen padat, menggabungkan sakralnya adat dengan berkah Lebaran,” tambahnya.

Tahapan seperti Mappacci, Mappenre Botting, Mappasikarawa, hingga Mapparola menjadi bagian penting yang mempererat hubungan keluarga sekaligus sebagai bentuk rasa syukur.

Meski ASN menjalankan pola kerja fleksibel, Kemenag memastikan pelayanan publik tetap menjadi prioritas.

Seluruh jajaran KUA diminta tetap siaga agar masyarakat tidak mengalami kendala dalam mengurus pernikahan.

Untuk mempermudah akses, layanan pendaftaran nikah kini juga dapat dilakukan secara daring melalui simkah4.kemenag.go.id.

Dengan fasilitas ini, masyarakat tidak harus datang langsung ke kantor untuk mengurus administrasi awal.

“Saya harap dengan sistem ini, masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan seperti hari kerja normal. Insyaallah aparatur kami siap memberikan layanan,” ucapnya.

Secara nasional, tren pernikahan pada bulan Syawal memang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada 2023-2025, data pencatatan pernikahan mencapai angka 667.000.

BACA JUGA: 
Kemenag Sulsel Ingatkan Jamaah Umrah: Luruskan Niat, Jangan Tergiur Biaya Murah

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru