Overview
- Sumur Laccokkong merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Bone yang berusia lebih dari 650 tahun.
- Sumur ini berasal dari kisah pelarian La Saliyu Korampelua, yang kemudian menjadi raja Bone ke-3 pada abad ke-15
- Terletak di Watampone, Sumur Laccokkong menjadi ikon budata Bugis-Bone dan bagian penting dari cagar budaya daerah.
SulawesiPos.com – Sumur Laccokkong merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Bone yang masih terjaga hingga kini.
Terletak di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, sumur ini menjadi ikon budaya dan saksi perjalanan sejarah panjang masyarakat Bugis-Bone di Bone.
Sumur Laccokkong diperkirakan telah berusia lebih dari 650 tahun dan berkaitan erat dengan masa pemerintahan Raja Bone ke-3, La Saliyu Korampelua yang memerintah pada 1424-1496.
Sejarawan Bone, Andi Yushan mengatakan, Bubung (Sumur) Laccokkong berasal dari kisah pelarian Pangeran La Saliyu.
Dalam kondisi kehausan, pengawal memberinya air dari mata air ini.
Setelah meminumnya, Pangeran langsung bangkit dan mendongakkan kepala (Gerakan dalam bahasa Bugis disebut Cokkong) sehingga disebut Bubung Laccokkong.
“Air dari sumur ini secara tradisional digunakan dalam prosesi Mallekke Toja (pengambilan air suci) untuk pelantikan raja, pernikahan pangeran, dan penyucian pusaka. Termasuk pengambilan air suci saat peringatan Hari Jadi Bone,” katanya, Sabtu (14/2/2026).
Laccokkong juga dikenal sebagai salah satu dari tiga sumur utama Kerajaan Bone yang memiliki peran penting dalam ritual adat kerajaan.
Dari ketiganya, Sumur Laccokkong menjadi situs yang paling dikenal dan masih tersisa hingga saat ini.
“Airnya disucikan dan digunakan untuk upacara adat krusial seperti kelahiran putra mahkota dan pelantikan raja-raja Bone,” jelasnya.

