30 C
Makassar
12 February 2026, 15:44 PM WITA

Tradisi Mappedendang Suku Bugis, Wujud Syukur Atas Hasil Panen Melimpah

SulawesiPos.com – Mappadendang adalah tradisi pesta panen padi masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, utamanya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Tradisi ini dirawat turun temurun, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen melimpah dan penolak bala.

Tradisi ini dilakukan dengan menumbuk lesung dan alu secara berirama oleh pria dan wanita berpakaian adat Baju Bodo khas Sulawesi Selatan (Sulsel) yang biasanya dilaksanakan saat panen raya atau musim kemarau.

“Selain ungkapan syukur, Mappadendang merupakan simbol kegembiraan, mempererat tali silaturahmi, dan wujud gotong royong masyarakat,” kata tokoh masyarakat Kecamatan Dua Boccoe, H Tamrin kepada wartawan SulawesiPos.com, disela acara pesta panen di Dusun Tuan Lewo Desa Tawatoe Kecamatan Dua Boccoe, Kamis (12/2/2026).

Makna lainnya dari tradisi Mappadendang, kata H Tamrin, yaitu proses penyucian gabah sebelum akhirnya dikonsumsi oleh masyarakat.

“Secara simbolis, tradisi ini juga dianggap sebagai proses penyucian gabah sebelum dikonsumsi,'” imbuhnya.

Mappadendang menggunakan alat lesung (palungeng) panjang dengan 6-12 lubang dan alu (tongkat penumbuk).

Pelakunya biasanya terdiri dari tiga sampai enam perempuan yang disebut Pakkindona, serta tuga sampai enam pria atau Pakkambona.

Baca Juga: 
Kalla Toyota Peringkat 3 Nasional Penjualan Tertinggi di Indonesia

Rangkaian acara seringkali diiringi dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, permainan rakyat seperti maddoa (ayunan), dan pertunjukan seni lainnya.

“Tradisi ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat suku Bugis sebagai salah satu warisan budaya yang menarik dan bernilai magis,” tutupnya. (kar)

SulawesiPos.com – Mappadendang adalah tradisi pesta panen padi masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, utamanya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Tradisi ini dirawat turun temurun, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen melimpah dan penolak bala.

Tradisi ini dilakukan dengan menumbuk lesung dan alu secara berirama oleh pria dan wanita berpakaian adat Baju Bodo khas Sulawesi Selatan (Sulsel) yang biasanya dilaksanakan saat panen raya atau musim kemarau.

“Selain ungkapan syukur, Mappadendang merupakan simbol kegembiraan, mempererat tali silaturahmi, dan wujud gotong royong masyarakat,” kata tokoh masyarakat Kecamatan Dua Boccoe, H Tamrin kepada wartawan SulawesiPos.com, disela acara pesta panen di Dusun Tuan Lewo Desa Tawatoe Kecamatan Dua Boccoe, Kamis (12/2/2026).

Makna lainnya dari tradisi Mappadendang, kata H Tamrin, yaitu proses penyucian gabah sebelum akhirnya dikonsumsi oleh masyarakat.

“Secara simbolis, tradisi ini juga dianggap sebagai proses penyucian gabah sebelum dikonsumsi,'” imbuhnya.

Mappadendang menggunakan alat lesung (palungeng) panjang dengan 6-12 lubang dan alu (tongkat penumbuk).

Pelakunya biasanya terdiri dari tiga sampai enam perempuan yang disebut Pakkindona, serta tuga sampai enam pria atau Pakkambona.

Baca Juga: 
Diskusi Luwu Raya, Sekprov Sulsel Jufri Rahman Langsung Telepon Pejabat Kemendagri

Rangkaian acara seringkali diiringi dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, permainan rakyat seperti maddoa (ayunan), dan pertunjukan seni lainnya.

“Tradisi ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat suku Bugis sebagai salah satu warisan budaya yang menarik dan bernilai magis,” tutupnya. (kar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/