Pembagian bibit pohon secara masif yang dilakukan dalam acara tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap degradasi lahan, sekaligus investasi karbon jangka panjang bagi generasi mendatang di Kecamatan Pituriawa.
Kepala Desa Anabannae, Muh. Yunus, berdiri dengan bangga menyerahkan bibit tersebut sebagai simbolis dimulainya era desa mandiri sampah yang mengedepankan literasi ilmiah bagi masyarakatnya.
“Jujur saja, awalnya kami jijik melihat ulat, tapi setelah tahu ini bisa jadi uang dan pupuk mahal, kami siap menyulap halaman rumah menjadi pabrik protein,” ujar Daeng Mapuji, salah satu warga yang hadir dengan mata berbinar penuh harapan.
Secara teknis, budidaya maggot BSF merupakan solusi paling efisien secara termodinamika karena larva ini tidak membawa vektor penyakit dan memiliki siklus hidup yang sangat cepat untuk dipanen secara komersial.
Dengan antusiasme yang membara, Desa Anabannae kini bersiap menjadi mercusuar pelestarian alam di Kabupaten Sidrap, membuktikan bahwa sinergi sains dan kesadaran ekologis mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus mengangkat martabat ekonomi masyarakat perdesaan. (ali)

