Overview
- Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin menggelar pendampingan tajwid bagi anak-anak dan ibu-ibu Majelis Taklim di Desa Buae, Sidenreng Rappang, untuk meningkatkan kefasihan dan ketepatan bacaan Al-Qur’an.
- Program ini mencakup pembelajaran makhraj huruf, hukum bacaan, serta latihan membaca Al-Qur’an secara tartil, dilengkapi pre-test dan post-test untuk menilai kemajuan peserta.
- Modul tajwid yang disusun dapat digunakan guru mengaji setempat, menjadikan program berkelanjutan dan berdampak jangka panjang bagi generasi serta masyarakat.
SulawesiPos.com – Membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya lancar, karena kesempurnaan bacaan ditentukan oleh ketepatan tajwid dan kefasihan makhraj huruf yang menjadi penopang utama kemurnian makna ayat-ayat suci, sebuah kesadaran yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin untuk menggelar pendampingan intensif ilmu tajwid di Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh Riska Damaiyanti, mahasiswa Jurusan Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, yang bertindak sebagai penanggung jawab program pendampingan tajwid, dengan pelaksanaan berlangsung sejak 24 Desember 2024 hingga 28 Januari 2025 dan dipusatkan di Masjid Nurul Iman Desa Buae serta TPQ Ibu Lini, menyesuaikan jadwal mengaji yang telah berjalan di tengah masyarakat.
Program ini berangkat dari temuan lapangan yang menunjukkan bahwa anak-anak di Desa Buae telah aktif mengaji dan memiliki minat tinggi membaca Al-Qur’an, namun masih memerlukan pendampingan khusus dalam memahami dan menerapkan kaidah tajwid dasar secara tepat agar bacaan menjadi lebih tartil, fasih, dan sesuai dengan kaidah ilmu qira’ah.
“Anak-anak sudah terbiasa mengaji, tetapi masih sering keliru dalam makhraj huruf dan hukum bacaan, sehingga pendampingan difokuskan pada perbaikan bacaan, bukan mengajarkan dari nol dan tanpa menggantikan peran guru mengaji yang sudah ada,” ujar Riska Damaiyanti.
Ilmu tajwid sendiri secara luas dipahami sebagai perangkat ilmiah yang menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, karena kesalahan makhraj dan hukum bacaan tidak hanya memengaruhi keindahan lantunan ayat, tetapi juga berpotensi mengubah makna lafaz, sebuah alasan mengapa pembelajaran tajwid sejak usia dini menjadi perhatian serius di banyak komunitas Muslim.
Dalam praktiknya, materi pendampingan mencakup pengenalan ilmu tajwid dasar, makharijul huruf, hukum nun sukun dan tanwin, qolqolah, mad, serta pembiasaan membaca Al-Qur’an secara perlahan, jelas, dan bertanggung jawab, dengan metode mengaji bersama yang komunikatif dan persuasif agar anak-anak tetap merasa nyaman dan percaya diri.
Sebagai bagian dari pendekatan berbasis evaluasi, kegiatan ini dilengkapi dengan pre-test dan post-test tertulis untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta terhadap tajwid dasar sekaligus menilai peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an setelah mengikuti pendampingan secara berkelanjutan.

