Ia juga belum dapat memastikan kondisi jenazah, termasuk apakah ditemukan dalam keadaan utuh atau tidak, karena proses pelabelan belum dilakukan.
“Belum tahu, belum dikasi label. Insya Allah utuh. (berapa persen), nanti tanya pak Haris (Kabiddokes). Soal perempuan atau laki laki, nanti disampaikan Biddokkes,”
Yudhi berharap lima jenazah korban lainnya yang masih berada di lokasi kecelakaan dapat segera dievakuasi agar seluruh korban dapat menjalani proses identifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Pesawat ATR 42-500 sebelumnya dilaporkan hilang kontak di kawasan pegunungan Bulusaraung, wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Pesawat yang mengangkut 10 orang tersebut kemudian dipastikan jatuh setelah tim menemukan puing-puing di lereng Gunung Bulusaraung.
Dalam operasi pencarian hingga Rabu (21/1/2026), Tim SAR gabungan telah menemukan delapan jenazah korban serta sejumlah body part. Dari jumlah tersebut, dua jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Dua korban yang telah teridentifikasi yakni Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat ATR 42-500, serta Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

