Overview
-
KNKT mulai menganalisis black box pesawat ATR 42-500 yang kecelakaan di Gunung Bulusaraung untuk mengungkap penyebab insiden.
-
Data CVR dan FDR dari black box akan diverifikasi dan dianalisis di Jakarta dengan estimasi waktu hingga 10 hari.
-
Basarnas berharap hasil investigasi KNKT dapat menghasilkan rekomendasi keselamatan agar kecelakaan serupa tidak terulang.
SulawesiPos.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi menangani black box pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Perangkat penting tersebut akan menjadi kunci utama dalam mengungkap penyebab insiden yang melibatkan 10 orang di dalam pesawat.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, setelah proses serah terima dari Basarnas, black box akan segera dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pengunduhan dan verifikasi data.
Proses analisis diperkirakan membutuhkan waktu hingga 10 hari.
“Setelah itu baru kita analisis. Akan dibawa ke kantor kita (KNKT) di Jakarta,” jelasnya, Kamis (22/1/2026).
Soerjanto menjelaskan, black box pesawat terdiri atas dua perangkat utama, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).
CVR merekam seluruh percakapan dan suara di dalam kokpit melalui empat saluran berbeda, mulai dari komunikasi dengan pengawas lalu lintas udara (ATC), komunikasi antarpilot, komunikasi kokpit dengan kabin, hingga seluruh suara suara di ruang kokpit.
“Seluruh percakapan pilot serta berbagai suara di dalam kokpit terekam dan akan menjadi bahan penting dalam proses investigasi,” tambahnya.
Sementara itu, Flight Data Recorder menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan, termasuk ketinggian, kecepatan, serta berbagai data teknis lainnya.

