Kehadiran pelabuhan peti kemas diyakini tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menciptakan peluang bisnis yang luas bagi masyarakat, khususnya di wilayah Tonra, Salomekko, dan Mare yang berada di sekitar lokasi.
Arus barang, jasa, serta distribusi hasil bumi nantinya akan terkonsolidasi melalui jalur ini, sehingga mempercepat distribusi dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
“Di sini bukan hanya pelabuhan. Ini akan berkembang menjadi kawasan industri. Hasil bumi bisa langsung diproduksi dan dikirim dari sini, dan tentu saja akan berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” lanjutnya.
AAS pun menilai proyek ini memiliki nilai historis bagi Kabupaten Bone.
“Kalau ini berhasil, ini akan menjadi sejarah. Semua pihak yang terlibat hari ini adalah bagian dari sejarah itu,” pungkasnya.
Dari pesisir Tonra, babak baru pembangunan Kabupaten Bone mulai dirintis, menghubungkan potensi lokal dengan arus ekonomi regional hingga nasional. (kar/ayi)

