Overview
Kelangkaan elpiji 3 Kg di Kabupaten Bone telah berlangsung sekitar tiga pekan dan memaksa warga mencari tabung gas hingga ke kabupaten tetangga.
Terbatasnya pasokan membuat harga elpiji 3 Kg di tingkat pengecer naik hingga Rp35.000 per tabung dari harga normal.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah daerah maupun Pertamina terkait penyebab dan solusi kelangkaan elpiji tersebut.
SulawesiPos.com – Kelangkaan elpiji 3 kilogram atau tabung melon terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Kondisi ini dilaporkan telah berlangsung selama sekitar tiga pekan terakhir dan berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga warga.
Untuk mendapatkan elpiji 3 Kg, sebagian warga bahkan harus berburu tabung gas hingga ke kabupaten tetangga.
“Kita sudah minta PT Pertamina Patra Niaga untuk tambahan kuota. Alhamdulillah respons pertamina, dia meminta rekomendasi alokasi penambahan kuota untuk menanggulangi kelangkaan elpiji 3 kg,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bone, H Rusdi kepada wartawan SPos (SulawesiPos.com), Rabu (14/1/2026).
Salah satunya dialami Sumarni, warga Kecamatan Dua Boccoe. Ia mengaku baru bisa memperoleh elpiji 3 Kg di Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo, setelah mendapat informasi bahwa stok masih tersedia meski terbatas.
“Saya tanya teman di sana, katanya masih ada stoknya tapi terbatas. Jadi saya langsung ke sana. Daripada tidak bisa memasak,” katanya.
Hal serupa dialami Indah, warga Kecamatan Tellusiattinge. Ia mengaku telah berkeliling mencari elpiji 3 Kg hingga ke Kecamatan Awangpone, yang berjarak belasan kilometer dari tempat tinggalnya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Itupun kosong. Terpaksa pakai kayu bakar lagi untuk memasak,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan, mengingat elpiji 3 Kg merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
Di tengah kelangkaan tersebut, harga elpiji 3 Kg di tingkat pengecer di Bone ikut melonjak.
Saat ini, harga berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000 per tabung, naik dari harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000.
Kelangkaan elpiji 3 Kg juga dirasakan oleh para pengecer. H. Rapi, salah satu pengecer di wilayah Watampone, mengungkapkan bahwa pasokan dari distributor datang tidak menentu.
“Kami juga kesulitan mendapatkan gas. Kadang ada kiriman, kadang tidak. Stok terbatas, sementara permintaan tinggi, akhirnya harga ikut naik,” ujarnya.
Menurut H. Rapi, kondisi ini menempatkan pengecer dan masyarakat pada posisi yang sama-sama sulit.
Selain keterbatasan pasokan, meningkatnya permintaan juga disebut menjadi salah satu faktor penyebab kelangkaan.
Beberapa warga menduga elpiji 3 Kg tidak hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga, tetapi juga untuk aktivitas non-rumah tangga, termasuk di sektor pertanian dan sawah, sehingga ketersediaan untuk masyarakat umum semakin menipis.
Hingga kini, Dinas Perdagangan Kabupaten Bone juga menelusuri penyebab kelangkaan elpiji 3 kg. (kar/ayi)