24 C
Makassar
3 February 2026, 5:07 AM WITA

Ambisi George Russell Miliki Jet Darat Mercedes Kandas: Terbentur Aturan Ketat Budget Cap F1

Overview

  • Meski berstatus pembalap utama Mercedes, George Russell harus menelan kekecewaan setelah permintaannya memiliki sasis asli Silver Arrow ditolak tim.
  • Kendala utamanya bukan pada keengganan Mercedes, melainkan regulasi pembatasan biaya (Budget Cap) FIA yang membuat produksi sasis menjadi sangat terbatas dibandingkan era dua dekade lalu.

SulawesiPos.com, Brackley – Menjadi pembalap Formula 1 papan atas ternyata tidak menjamin kemudahan dalam mengoleksi “alat kerja” sendiri.

Hal inilah yang dialami George Russell dalam proses negosiasi kontrak terbarunya bersama Mercedes-AMG Petronas.

Russell, yang kini telah mengamankan hypercar Mercedes-AMG One di garasi pribadinya, mengaku sempat mencoba memasukkan poin kepemilikan mobil Grand Prix asli dalam kesepakatan kerja.

Namun, tim pabrikan Jerman tersebut terpaksa mengatakan “tidak”.

Dalam wawancara eksklusif bersama Auto Motor und Sport, pembalap berusia 27 tahun itu membeberkan bahwa alasan penolakan tersebut murni karena masalah teknis dan finansial yang diatur oleh FIA.

Pembalap asal Inggris ini membandingkan kondisi saat ini dengan era 20 tahun silam.

Jika dulu tim bisa memproduksi hingga 20 sasis per tahun karena tes tanpa batas, kini kondisinya berbanding terbalik.

Baca Juga: 
Sinyal Bahaya dari Maranello: Lewis Hamilton Tercepat di Penutup Shakedown Barcelona 2026

“Masalahnya ada pada regulasi keuangan. Saat ini, karena adanya pembatasan anggaran, tim hanya memproduksi tiga hingga empat monocoque saja per tahun,” ungkap Russell.

Hal ini membuat setiap sasis yang diproduksi menjadi aset yang sangat vital dan tidak bisa sembarangan dihadiahkan atau dijual, bahkan kepada pembalap utama mereka sendiri.

Menariknya, Russell melihat adanya ketimpangan dalam regulasi ini.

Menurut perhitungannya, suku cadang lain seperti sayap depan, underbody, hingga mesin (yang diproduksi hingga 60 unit per musim) tersedia dalam jumlah melimpah.

Hanya sasis atau bagian inti mobil yang produksinya sangat ditekan.

Karena kegagalannya dalam negosiasi kontrak ini, Russell melontarkan ide agar FIA memberikan pengecualian.

Ia berharap federasi mengizinkan tim memproduksi sasis tambahan di luar hitungan budget cap khusus untuk kepentingan koleksi atau demonstrasi.

“Mungkin ini adalah sesuatu yang harus saya diskusikan langsung dengan FIA,” tambahnya dengan nada optimis.

Meski garasinya masih kosong dari mobil F1, performa Russell di lintasan tetap solid setelah menutup musim 2025 di peringkat keempat.

Baca Juga: 
Gokart Jules Bianchi Ditemukan, Keluarga Lega: Warisan Sang Pembalap Kembali ke Rumah

Kini, fokus tandem Andrea Kimi Antonelli ini beralih sepenuhnya pada regulasi baru F1 2026, di mana ia berharap Mercedes bisa kembali mendominasi dan memberinya posisi tawar lebih tinggi di masa depan.

Overview

  • Meski berstatus pembalap utama Mercedes, George Russell harus menelan kekecewaan setelah permintaannya memiliki sasis asli Silver Arrow ditolak tim.
  • Kendala utamanya bukan pada keengganan Mercedes, melainkan regulasi pembatasan biaya (Budget Cap) FIA yang membuat produksi sasis menjadi sangat terbatas dibandingkan era dua dekade lalu.

SulawesiPos.com, Brackley – Menjadi pembalap Formula 1 papan atas ternyata tidak menjamin kemudahan dalam mengoleksi “alat kerja” sendiri.

Hal inilah yang dialami George Russell dalam proses negosiasi kontrak terbarunya bersama Mercedes-AMG Petronas.

Russell, yang kini telah mengamankan hypercar Mercedes-AMG One di garasi pribadinya, mengaku sempat mencoba memasukkan poin kepemilikan mobil Grand Prix asli dalam kesepakatan kerja.

Namun, tim pabrikan Jerman tersebut terpaksa mengatakan “tidak”.

Dalam wawancara eksklusif bersama Auto Motor und Sport, pembalap berusia 27 tahun itu membeberkan bahwa alasan penolakan tersebut murni karena masalah teknis dan finansial yang diatur oleh FIA.

Pembalap asal Inggris ini membandingkan kondisi saat ini dengan era 20 tahun silam.

Jika dulu tim bisa memproduksi hingga 20 sasis per tahun karena tes tanpa batas, kini kondisinya berbanding terbalik.

Baca Juga: 
Leo/Bagas Juara Thailand Masters 2026, Taklukkan Raymond/Joaquin di Final

“Masalahnya ada pada regulasi keuangan. Saat ini, karena adanya pembatasan anggaran, tim hanya memproduksi tiga hingga empat monocoque saja per tahun,” ungkap Russell.

Hal ini membuat setiap sasis yang diproduksi menjadi aset yang sangat vital dan tidak bisa sembarangan dihadiahkan atau dijual, bahkan kepada pembalap utama mereka sendiri.

Menariknya, Russell melihat adanya ketimpangan dalam regulasi ini.

Menurut perhitungannya, suku cadang lain seperti sayap depan, underbody, hingga mesin (yang diproduksi hingga 60 unit per musim) tersedia dalam jumlah melimpah.

Hanya sasis atau bagian inti mobil yang produksinya sangat ditekan.

Karena kegagalannya dalam negosiasi kontrak ini, Russell melontarkan ide agar FIA memberikan pengecualian.

Ia berharap federasi mengizinkan tim memproduksi sasis tambahan di luar hitungan budget cap khusus untuk kepentingan koleksi atau demonstrasi.

“Mungkin ini adalah sesuatu yang harus saya diskusikan langsung dengan FIA,” tambahnya dengan nada optimis.

Meski garasinya masih kosong dari mobil F1, performa Russell di lintasan tetap solid setelah menutup musim 2025 di peringkat keempat.

Baca Juga: 
Gokart Jules Bianchi Ditemukan, Keluarga Lega: Warisan Sang Pembalap Kembali ke Rumah

Kini, fokus tandem Andrea Kimi Antonelli ini beralih sepenuhnya pada regulasi baru F1 2026, di mana ia berharap Mercedes bisa kembali mendominasi dan memberinya posisi tawar lebih tinggi di masa depan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/