Hampir seluruh pembalap elite akan habis masa kerjanya. Dalam situasi seperti ini, Ducati memilih mengamankan aset terbesarnya lebih awal.
Langkah ini memberi dua keuntungan besar, Ducati tidak terganggu drama pasar pembalap.
Fokus penuh bisa diarahkan ke pengembangan motor dan kejuaraan.
Dengan Marquez sudah aman, Ducati memiliki posisi tawar kuat dalam menentukan siapa pendamping ideal di garasi pabrikan.
Keputusan Marquez bertahan otomatis mempersempit kursi elite MotoGP. Satu tempat paling prestisius di grid kini tertutup hingga 2028.
Situasi ini memicu efek domino, Pedro Acosta semakin agresif mencari kursi pabrikan.
Fabio Quartararo terdesak mencari proyek kompetitif.
Francesco Bagnaia berada dalam tekanan performa tinggi.
Pasar pembalap kini bergerak mengelilingi Ducati, bukan sebaliknya.
Dalam satu dekade terakhir, Ducati berubah dari penantang menjadi penguasa.

