Overview
SulawesiPos.com, NOALE – CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, memberikan sinyal peringatan keras bagi internal timnya.
Pria asal Italia tersebut menegaskan bahwa Aprilia harus segera bergerak cepat untuk memagari para pembalapnya dari incaran kompetitor, menyusul munculnya tawaran menggiurkan dari pabrikan Jepang untuk musim 2026/2027.
Langkah ini diambil Rivola bukan tanpa alasan.
Performa bagus Marco Bezzecchi pada 2025, di mana ia finis ketiga dalam statistik, dengan tiga kemenangan di kantongnya, pasti telah memicu efek panggilan bagi perusahaan-perusahaan besar, yang menjajaki pasar dengan portofolio jauh lebih kuat daripada yang lain.
Seiring dengan perubahan regulasi besar-besaran yang akan terjadi pada tahun 2027, peta persaingan bursa transfer pembalap diprediksi akan memanas lebih awal dari biasanya.
Setelah beberapa musim mengalami masa sulit, raksasa Jepang seperti Honda dan Yamaha kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan melalui investasi besar-besaran dan perubahan struktur organisasi.
Rivola mengendus adanya upaya dari pabrikan-pabrikan tersebut untuk membajak talenta terbaik yang saat ini berada di bawah naungan Noale.
“Kami tidak boleh lengah. Pasar pembalap bergerak sangat dinamis, dan kami tahu ada tawaran besar yang mulai masuk dari tim lain, terutama pabrikan Jepang yang ingin kembali ke puncak,” ujar Massimo Rivola.
Bagi Rivola, menyelesaikan susunan pembalap (rider lineup) untuk proyek masa depan bukan sekadar soal kontrak, melainkan tentang stabilitas pengembangan motor.
Aprilia yang kini menjadi salah satu penantang gelar utama tidak ingin momentum mereka terganggu oleh ketidakpastian masa depan pembalapnya.
Beberapa poin krusial yang menjadi perhatian Aprilia saat ini antara lain Keamanan Proyek 2027: Menjamin pembalap yang ada tetap berkomitmen untuk transisi ke mesin 850cc.
Keseimbangan Finansial: Menyamai atau memberikan nilai tambah kompetitif di luar sekadar angka gaji untuk menangkal tawaran fantastis dari Jepang.
Loyalitas Pembalap: Menekankan pada progres teknis motor RS-GP yang terbukti lebih kompetitif dibandingkan motor pabrikan Jepang dalam dua musim terakhir.
Lampu kuning telah dinyalakan. Rivola menekankan bahwa Aprilia tidak ingin hanya menjadi “sekolah” bagi pembalap yang kemudian diambil oleh tim dengan anggaran lebih besar.
Kecepatan dalam negosiasi akan menjadi kunci apakah Aprilia mampu mempertahankan statusnya sebagai tim elit di grid MotoGP.
“Tujuannya jelas: memberikan motor terbaik dan kepastian proyek jangka panjang. Jika kami terlambat, kami berisiko kehilangan aset berharga kami,” tutup Rivola.