SulawesiPos.com – Gelombang kecaman terhadap tindakan rasisme kembali mencuat di dunia sepak bola Indonesia.
Kali ini, penyerang Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta, menjadi sasaran hujatan sejumlah oknum netizen usai penampilannya dinilai kurang maksimal dalam laga FIFA Matchday melawan Saint Kitts and Nevis national football team.
Dalam beberapa unggahan di media sosial, terlihat komentar-komentar bernada negatif hingga rasis yang ditujukan kepada Sananta.
Situasi ini langsung memicu reaksi publik yang mengecam tindakan tersebut dan menyerukan kampanye “No Rasisme” sebagai bentuk solidaritas terhadap sang pemain.
Kritik Boleh, Rasisme Tidak
Pengamat sepak bola menilai kritik terhadap performa pemain adalah hal yang wajar dalam olahraga kompetitif.
Namun, ketika kritik berubah menjadi serangan personal apalagi bernuansa rasis, hal tersebut sudah melanggar nilai sportivitas.
Sananta sendiri memang tampil di bawah ekspektasi dalam laga tersebut.
Meski begitu, banyak pihak mengingatkan bahwa performa seorang pemain tidak selalu stabil di setiap pertandingan.
“Dalam sepak bola, naik-turun performa adalah hal biasa. Tidak ada pemain yang selalu tampil sempurna,” ujar salah satu pengamat.
Dukungan Lebih Penting dari Tekanan
Sebagai salah satu penyerang muda potensial, Ramadhan Sananta digadang-gadang menjadi masa depan lini depan Indonesia national football team.
Oleh karena itu, dukungan dari supporter menjadi faktor penting dalam perkembangan mental dan performanya.
Alih-alih memberikan tekanan berlebihan, publik diharapkan mampu memberikan motivasi agar pemain bisa bangkit di pertandingan berikutnya.
Sepak bola bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang proses dan perkembangan pemain.
Sepak Bola Harus Jadi Ruang Aman
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa isu rasisme masih menjadi masalah serius di dunia sepak bola, termasuk di Indonesia.
Kampanye anti-rasisme perlu terus digaungkan agar sepak bola tetap menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua pemain.
Federasi sepak bola dunia seperti FIFA sendiri secara tegas memiliki kebijakan “Say No to Racism” yang terus disosialisasikan dalam setiap pertandingan internasional.
Harapan ke Depan
Publik diharapkan bisa lebih dewasa dalam menyikapi performa pemain.
Kritik yang membangun tentu dibutuhkan, namun harus disampaikan tanpa unsur kebencian, apalagi rasisme.
Ramadhan Sananta tetap merupakan aset penting bagi masa depan Timnas Indonesia.
Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin ia akan berkembang menjadi salah satu striker terbaik yang dimiliki Indonesia.
Sepak bola sejatinya menyatukan, bukan memecah belah.
Sudah saatnya semua pihak berdiri bersama melawan rasisme.

