SulawesiPos.com — Hansi Flick tidak sedang berbasa-basi.
Pelatih Barcelona itu memberikan pujian setinggi langit bagi Premier League menjelang pertemuan krusial timnya melawan Newcastle United di babak gugur Liga Champions.
Meski begitu, Flick menegaskan bahwa Blaugrana tidak akan gentar dan tetap mengandalkan filosofi permainan mereka yang mendunia.
Belajar dari Luka di Copa del Rey
Kekalahan menyakitkan dari Atlético Madrid di Copa del Rey rupanya menjadi alarm keras bagi ruang ganti Barca.
Flick mengakui ada evaluasi jujur yang dilakukan timnya terkait rapuhnya lini pertahanan.
“Kami tidak bertahan sebagai tim saat melawan Atlético. Itu krusial di Liga Champions, dan kami telah memperbaikinya,” ujar Flick.
Senada dengan sang pelatih, kiper Joan GarcÃa menekankan pentingnya menjaga fokus sejak menit pertama agar tidak mengulangi kesalahan di leg pertama seperti yang terjadi di kompetisi domestik.
Efek Lamine Yamal dan Ancaman Newcastle
Di kubu seberang, Eddie Howe secara terbuka mengakui bahwa ancaman terbesar Barcelona kali ini adalah Lamine Yamal.
Pemain muda sensasional ini absen pada pertemuan fase liga sebelumnya, dan Howe menyadari pertahanan sayapnya harus tampil sempurna.
“Dia (Yamal) adalah pemain luar biasa. Kami perlu bertahan jauh lebih baik daripada yang kami lakukan akhir pekan lalu di area sayap,” kata Howe.
Newcastle: Senjata Psikologis ‘Si Kuda Hitam’
Meskipun Barcelona diunggulkan secara tradisi, Eddie Howe justru merasa nyaman dengan status underdog.
Baginya, ini adalah pertandingan terbesar dalam sejarah modern Newcastle United.
“Peran underdog telah membantu kami saat peluang tampak mustahil. Kami akan menggunakan setiap alat psikologis yang kami miliki,” tegas pelatih asal Inggris tersebut.
Howe juga mengenang pertemuan sebelumnya di mana lini tengah Barcelona yang dipimpin oleh trio kreatifnya berhasil mendikte permainan.
Kali ini, Newcastle bertekad tidak akan menyia-nyiakan peluang sekecil apa pun di depan gawang.
Kesimpulan
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket ke babak selanjutnya, melainkan benturan antara keanggunan taktik Spanyol dan intensitas fisik Premier League.
Apakah filosofi Flick mampu meredam gairah “paling bersejarah” dari anak asuh Eddie Howe?

