SulawesiPos.com — Pertandingan pekan ke-27 Serie A menghadirkan duel menarik antara Sassuolo dan Atalanta.
Bermain di kandang sendiri pada 1 Maret 2026, Sassuolo sukses mengamankan tiga poin usai menang tipis 2-1 dalam laga yang diwarnai kartu merah dan drama hingga menit akhir.
Sejak awal, kedua tim tampil agresif.
Tekanan tinggi membuat tempo permainan berjalan cepat dan keras, terbukti dengan sejumlah pelanggaran yang terjadi di babak pertama.
Babak Pertama: Gol Kone dan Kartu Merah Pinamonti
Sassuolo membuka keunggulan pada menit ke-23 melalui sepakan tajam Kone yang memanfaatkan umpan Lauriente.
Gol tersebut membuat tuan rumah semakin percaya diri dalam mengontrol permainan.
Namun pertandingan berubah panas ketika Pinamonti diganjar kartu merah langsung pada menit ke-16.
Meski sempat bermain dengan tensi tinggi, Sassuolo tetap mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga turun minum.
Beberapa kartu kuning juga keluar dari saku wasit, menandakan kerasnya duel lini tengah di paruh pertama.
Babak Kedua: Thorstvedt Tambah Gol, Musah Balas
Memasuki babak kedua, kedua pelatih melakukan sejumlah pergantian pemain untuk menjaga intensitas.
Sassuolo kembali menunjukkan efektivitasnya pada menit ke-69 lewat gol Thorstvedt, lagi-lagi berawal dari kontribusi Lauriente.
Skor berubah menjadi 2-0 dan publik tuan rumah bersorak lega.
Atalanta tak menyerah.
Tekanan bertubi-tubi akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-88 melalui gol Musah yang memanfaatkan assist Zappacosta.
Gol tersebut memperkecil kedudukan menjadi 2-1 dan membuat menit-menit akhir semakin menegangkan.
Namun hingga peluit panjang dibunyikan, skor tak berubah.
Statistik Singkat Pertandingan
- Skor akhir: Sassuolo 2-1 Atalanta
- Pencetak gol Sassuolo: Kone (23′), Thorstvedt (69′)
- Pencetak gol Atalanta: Musah (88′)
- Kartu merah: Pinamonti (16′)
- Beberapa kartu kuning mewarnai laga keras ini
Dampak ke Klasemen
Kemenangan ini menjadi suntikan moral penting bagi Sassuolo dalam persaingan papan tengah Serie A.
Sementara itu, Atalanta harus mengevaluasi lini pertahanan mereka setelah kebobolan dua gol krusial yang menentukan hasil akhir.
Laga ini memperlihatkan bahwa efektivitas penyelesaian akhir menjadi faktor pembeda utama, terutama dalam pertandingan dengan tensi tinggi dan jumlah peluang yang relatif seimbang.

