SulawesiPos.com — Pesepakbola asal Argentina, Gianluca Prestianni, berada dalam situasi genting.
Ia terancam absen setidaknya dua musim dari kompetisi Eropa akibat dugaan hinaan terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior.
Kasus ini menjadi sorotan besar setelah UEFA secara resmi mengonfirmasi telah membuka investigasi.
Badan sepak bola Eropa itu menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius yang berpotensi masuk kategori penghinaan terhadap martabat manusia.
Investigasi UEFA dan Kesaksian Pemain
Dalam proses penyelidikan, UEFA akan meminta keterangan dari seluruh pemain yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Situasi ini dinilai rumit karena Prestianni disebut memilih melindungi dirinya dengan tidak memberikan pernyataan terbuka.
UEFA pun harus mengandalkan kesaksian para pemain yang berada paling dekat dengan insiden tersebut, termasuk Arda Guler, Eduardo Camavinga, hingga Kylian Mbappe.
Kesaksian para pemain ini akan menjadi kunci utama dalam menentukan apakah dugaan tersebut dapat dibuktikan secara disipliner.
Mbappe Desak Sanksi Tegas
Di tengah proses investigasi, Kylian Mbappe telah angkat bicara secara terbuka.
Penyerang Real Madrid itu menyerukan agar Prestianni dijatuhi sanksi tegas jika terbukti bersalah.
Bahkan, Mbappe secara eksplisit meminta agar sang pemain tidak diizinkan tampil pada leg kedua yang akan digelar di Santiago Bernabeu.
Pernyataan Mbappe memperkuat tekanan publik agar UEFA bertindak tegas demi menjaga nilai sportivitas dan integritas kompetisi.
Ancaman Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA
Merujuk Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA, seorang pemain yang terbukti menghina martabat manusia termasuk berdasarkan warna kulit atau latar belakang lainnya akan dikenai skorsing minimal 10 pertandingan.
Dalam konteks Liga Champions, hukuman tersebut berarti absen setidaknya satu musim penuh.
Dalam kasus yang dianggap berat, sanksi bisa diperpanjang hingga dua bahkan tiga musim, tergantung pada hasil investigasi dan tingkat pelanggaran.
Karier Terancam di Usia Muda
Situasi ini menjadi ironi besar bagi Prestianni yang baru berusia 20 tahun.
Di usia yang seharusnya menjadi fase pembangunan karier, ia justru terancam hukuman panjang akibat tindakan yang dinilai tidak sportif.
UEFA kini berada di bawah sorotan untuk menghasilkan putusan yang adil dan tegas.
Sementara itu, dunia sepak bola kembali diingatkan bahwa tindakan di luar nilai sportivitas dapat berdampak sangat besar bahkan menghancurkan masa depan seorang pemain muda.

