SulawesiPos.com – Kompetisi tertinggi sepak bola Inggris, Premier League, memastikan kembali penerapan kebijakan khusus selama bulan suci Ramadan.
Dalam sejumlah pertandingan yang berlangsung bertepatan dengan waktu Magrib, wasit akan memberikan jeda singkat agar pemain Muslim dapat membatalkan puasa.
Kebijakan tersebut bukan hal baru
Sejak musim 2020/2021, otoritas Liga Inggris telah mengakomodasi kebutuhan pemain Muslim dengan menghentikan laga sesaat pada momen yang dinilai aman, seperti saat bola keluar lapangan, tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau situasi bola mati lainnya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman dan nilai inklusivitas yang dijunjung tinggi kompetisi sepak bola Inggris.
Tidak Mengganggu Jalannya Pertandingan
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa pertandingan tidak akan dihentikan secara mendadak ketika bola masih dalam permainan aktif.
Wasit hanya akan memberi kesempatan berbuka pada momentum netral yang tidak memengaruhi ritme kompetitif laga.
Biasanya, pemain cukup mengonsumsi air mineral atau kurma di tepi lapangan sebelum kembali melanjutkan pertandingan.
Proses tersebut berlangsung singkat dan tidak memerlukan tambahan waktu signifikan.
Kebijakan ini berlaku tidak hanya di Premier League, tetapi juga mencakup divisi di bawahnya dalam sistem kompetisi sepak bola Inggris.
Bentuk Penghormatan terhadap Keberagaman
Sepak bola Inggris dalam beberapa tahun terakhir dikenal aktif mengedepankan kampanye anti-diskriminasi dan inklusi sosial.
Fasilitas berbuka puasa di tengah laga menjadi salah satu wujud nyata komitmen tersebut.
Sejumlah pemain Muslim yang merumput di Liga Inggris rutin menjalani puasa Ramadan setiap tahunnya.
Dengan adanya kebijakan ini, mereka tetap dapat menjalankan ibadah tanpa harus mengorbankan profesionalisme di lapangan.
Atmosfer stadion pun menunjukkan dukungan positif, di mana suporter dan ofisial memberikan penghormatan saat jeda singkat berlangsung.
Konsistensi Sejak 2021
Penerapan aturan ini pertama kali diumumkan secara resmi pada 2021 dan terus dipertahankan hingga musim 2026.
Respons publik dan komunitas sepak bola internasional pun cenderung positif.
Banyak pihak menilai kebijakan tersebut sebagai langkah progresif yang dapat menjadi contoh bagi liga-liga lain di Eropa maupun dunia.
Dengan Ramadan yang kembali hadir tahun ini, Liga Inggris sekali lagi memperlihatkan bahwa sepak bola bukan sekadar kompetisi, melainkan juga ruang yang menghargai nilai kemanusiaan dan keberagaman budaya.

