Media sosial yang seharusnya menjadi ruang interaksi positif kerap disalahgunakan oleh oknum tertentu.
Federasi sepak bola internasional maupun konfederasi regional terus menggencarkan kampanye anti-rasisme, namun praktik tersebut masih saja muncul.
Pengamat sepak bola menilai perlu adanya langkah tegas dari platform digital dan otoritas terkait untuk menindak akun-akun yang menyebarkan ujaran kebencian.
Edukasi kepada suporter juga dinilai penting agar rivalitas tetap berada dalam batas kewajaran.
Seruan Sportivitas
Insiden yang menimpa Gabriel Mutombo menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah olahraga pemersatu.
Rivalitas antarklub semestinya berhenti ketika peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari kompetisi, tetapi nilai sportivitas dan saling menghormati harus tetap dijaga.
Kampanye “Kick Out Racism” yang digaungkan di berbagai kompetisi internasional kembali relevan untuk ditegaskan, terutama di tengah maraknya interaksi digital.
Ratchaburi kini fokus menatap leg kedua dengan keunggulan agregat.
Sementara itu, publik berharap isu diskriminasi tidak lagi mencoreng wajah sepak bola Asia.

