Overview
- Isu mengenai dugaan adanya skenario PSSI dalam mendatangkan pemain diaspora ke klub-klub lokal demi kepentingan Piala AFF 2026 akhirnya mendapat tanggapan resmi.
- Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menegaskan bahwa federasi tidak terlibat dalam urusan transfer pemain profesional.
- Menurutnya, proses perekrutan sepenuhnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab klub, termasuk soal negosiasi serta transfer.
PSSI Tegaskan Tak Ikut Campur Soal Transfer
SulawesiPos.com — Perbincangan di media sosial terkait kedatangan sejumlah pemain diaspora ke kompetisi domestik belakangan memunculkan spekulasi liar.
Sebagian pihak menilai ada skenario khusus yang disusun PSSI untuk memuluskan persiapan Timnas Indonesia menuju Piala AFF 2026.
Menanggapi tudingan tersebut Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga menyebut isu itu tidak berdasar dan cenderung mengarah pada teori konspirasi.
Ia menjelaskan bahwa transfer pemain profesional merupakan mekanisme bisnis murni antara pemain dan klub.
Dalam proses tersebut, klub menjadi pihak yang melakukan negosiasi kontrak, membayar gaji, hingga menanggung biaya transfer jika diperlukan.
“Kalau bicara transfer, itu menyangkut uang dan kesepakatan profesional. Siapa yang membayar? Tentu klub, bukan federasi,” tegas Arya.
Transfer Pemain adalah Urusan Bisnis Klub
Arya juga menekankan bahwa PSSI tidak memiliki kewenangan untuk memaksa klub mendatangkan pemain tertentu, apalagi mengatur nilai kontrak atau skema pembayaran.
Menurutnya, klub memiliki pertimbangan teknis dan finansial sendiri sebelum merekrut pemain, termasuk pemain diaspora yang bermain di luar negeri.
“Klub pasti berhitung. Mereka melihat kebutuhan tim, kualitas pemain, dan kemampuan finansial. Kalau tidak sesuai, tentu tidak akan terjadi kesepakatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa logika dasar dalam dunia sepak bola profesional sangat sederhana: tidak ada transfer tanpa kesepakatan dua pihak yang sama-sama diuntungkan.

