25 C
Makassar
13 February 2026, 1:23 AM WITA

PSM Makassar Meet and Greet di Unhas, Bahas Sepakbola dan Filosofi Siri’ na Pacce’

SulawesiPos.com – Direktorat Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Meet and Greet PSM Makassar x Universitas Hasanuddin.

Kegiatan ini bertajuk “The Pride of Sulsel” di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Unhas Kampus Tamalanrea, Makassar, Kamis (12/2/2026).

Kegiatan ini menghadirkan manajemen PSM, pemain, sponsor, serta mahasiswa dalam ruang dialog yang membahas identitas, profesionalisme, hingga masa depan sepak bola Sulawesi Selatan (Sulsel).

Perwakilan dari manajemen PSM menekankan bahwa klub tidak hanya berbicara tentang pertandingan, tetapi juga tentang warisan sejarah dan budaya.

Ia mengawali dengan menyinggung sosok legenda Ramang di Olimpiade Melbourne pada tahun 1956, sebagai simbol bahwa PSM lahir dari budaya dan proses panjang masyarakat Sulsel.

“Sepak bola di Makassar itu berjalan seiring dengan budayanya. PSM bukan sekadar 11 pemain yang bertanding seminggu sekali, tapi representasi falsafah ‘Ewako’ dan ‘Siri’ na Pacce’,” ujar Muhammad Nur Fajrin.

Ia juga menjelaskan visi jangka panjang klub dalam membangun fondasi yang berkelanjutan.

“Target kami lima sampai sepuluh tahun ke depan bukan hanya soal prestasi, tapi membangun ekosistem sepak bola yang kuat dan berkelanjutan. Nama besar itu melahirkan tanggung jawab besar,” katanya.

Dari sisi pemain,  kapten PSM, Yuran Fernandes mengungkapkan kedekatan emosional dengan suporter menjadi pembeda klub ini.

“Mereka menerima kami seperti keluarga. Kami bermain jauh dari rumah, tapi di sini kami merasa seperti di rumah,” tuturnya.

SulawesiPos.com – Direktorat Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Meet and Greet PSM Makassar x Universitas Hasanuddin.

Kegiatan ini bertajuk “The Pride of Sulsel” di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Unhas Kampus Tamalanrea, Makassar, Kamis (12/2/2026).

Kegiatan ini menghadirkan manajemen PSM, pemain, sponsor, serta mahasiswa dalam ruang dialog yang membahas identitas, profesionalisme, hingga masa depan sepak bola Sulawesi Selatan (Sulsel).

Perwakilan dari manajemen PSM menekankan bahwa klub tidak hanya berbicara tentang pertandingan, tetapi juga tentang warisan sejarah dan budaya.

Ia mengawali dengan menyinggung sosok legenda Ramang di Olimpiade Melbourne pada tahun 1956, sebagai simbol bahwa PSM lahir dari budaya dan proses panjang masyarakat Sulsel.

“Sepak bola di Makassar itu berjalan seiring dengan budayanya. PSM bukan sekadar 11 pemain yang bertanding seminggu sekali, tapi representasi falsafah ‘Ewako’ dan ‘Siri’ na Pacce’,” ujar Muhammad Nur Fajrin.

Ia juga menjelaskan visi jangka panjang klub dalam membangun fondasi yang berkelanjutan.

“Target kami lima sampai sepuluh tahun ke depan bukan hanya soal prestasi, tapi membangun ekosistem sepak bola yang kuat dan berkelanjutan. Nama besar itu melahirkan tanggung jawab besar,” katanya.

Dari sisi pemain,  kapten PSM, Yuran Fernandes mengungkapkan kedekatan emosional dengan suporter menjadi pembeda klub ini.

“Mereka menerima kami seperti keluarga. Kami bermain jauh dari rumah, tapi di sini kami merasa seperti di rumah,” tuturnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru