Selain pertandingan sepak bola, stadion juga harus siap mengakomodasi konser musik, pameran, hingga event berskala nasional dan internasional.
“Kalau stadion hanya dipakai saat pertandingan, itu tidak cukup. Harus ada aktivitas lain agar stadion punya nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan,” tegasnya.
Selain aspek pemanfaatan, Appi juga menaruh perhatian khusus pada sistem perawatan stadion, terutama pengelolaan rumput lapangan.
Menurutnya, komponen maintenance harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan, termasuk kebutuhan anggaran dan mekanisme perawatan rutin.
“Kami pelajari detail alur perawatan, terutama rumput lapangan. Ini krusial karena berhubungan langsung dengan kualitas pertandingan dan biaya operasional jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, kesiapan proyek Stadion Untia juga diperkuat oleh rampungnya sertifikasi lahan seluas 23 hektare.
Kepala Dinas Pertanahan Kota Makassar, Sri Sulsilawati, memastikan seluruh lahan stadion kini telah bersertifikat dan bebas sengketa.
“Lahan yang siap dibangun kurang lebih 23 hektare dan sudah tersertifikasi. Ini untuk memastikan tidak ada masalah hukum di kemudian hari,” jelas Sri.
Ia menjelaskan, mekanisme sertifikasi lahan saat ini jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.
Setiap penerbitan sertifikat wajib dilengkapi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), sehingga penggunaan lahan benar-benar selaras dengan rencana tata ruang.

