Puncaknya, muncul keluhan pemain yang merasa diekspos secara visual bahkan ditampilkan di sampul program pertandingan tanpa persetujuan penuh selama periode Pride.
Dari sinilah pertanyaan besar muncul:
apakah dukungan masih bermakna jika dipaksakan?
Premier League Mundur Teratur
Alih-alih bersikukuh, Premier League memilih jalur kompromi:
- Ban lengan pelangi tak lagi wajib
- Atasan pemanasan Pride bersifat opsional
- Opsi baru: bola pertandingan bertema Pride
Langkah ini jelas upaya menyelamatkan citra kampanye tanpa memicu pembangkangan terbuka dari pemain.
Namun, bagi banyak pihak, ini juga bisa dibaca sebagai pengakuan diam-diam bahwa kampanye tersebut gagal mendapatkan konsensus penuh.
Analisis Tajam: Menang Narasi, Kalah Kendali
Premier League mungkin masih memegang narasi inklusivitas di permukaan. Tapi secara substansi, keputusan ini menunjukkan satu hal penting:
liga kehilangan kendali atas pesan yang ingin diseragamkan.

