Categories: Politik

Novelis Arab Saudi Mengabadikan Makkah sebagai Titik Temu Keragaman Manusia Dunia

SulawesiPos.com – Novelis Arab Saudi Hadeel Al-Shubaili meluncurkan novel keduanya, For Each of Us, an Ismail atau Setiap Kita Memiliki Ismail, di Pusat Kebudayaan Sard, Riyadh, Arab Saudi, pada Agustus 2026, setelah menulisnya selama satu setengah tahun di lingkungan Masjidilharam dengan mengolah perjumpaannya bersama jemaah dari berbagai negara menjadi kisah pencarian identitas, makna hidup, dan rasa memiliki melalui perpaduan sastra serta pameran seni multisensori, (Arab News, 15/8/2026).

Novel berbahasa Arab berjudul asli Li Kullin Minna Ismail atau Likullin Minnā Ismā‘īl itu menempatkan Ismail sebagai tokoh utama yang mengembara untuk menemukan nama, identitas, dan tempatnya di tengah kehidupan manusia.

Perjalanan Ismail mempertemukannya dengan jemaah berlatar budaya dan kebangsaan berbeda, sementara setiap wajah, tempat, serta percakapan meninggalkan jejak baru dalam pembentukan dirinya.

Di tengah pengembaraan tersebut, Ismail akhirnya memahami bahwa perjalanan manusia tidak hanya bergerak keluar melintasi wilayah geografis, tetapi juga masuk ke dalam diri untuk mengenali pengalaman yang membentuk kepribadian.

Majalah Arab Saudi Sayidaty dalam laporannya pada 9 Agustus 2026 menyebut novel itu memuat lebih dari 40 cerita yang terinspirasi oleh pengalaman nyata jemaah dari berbagai negara.

Kisah-kisah tersebut antara lain bersumber dari pengalaman manusia yang berasal dari Spanyol, Jerman, Brasil, Afghanistan, Pakistan, Turki, dan sejumlah negara Arab.

Al-Shubaili mengatakan Makkah memberinya kesempatan langka untuk menyaksikan dunia datang ke satu tempat melalui jutaan jemaah yang membawa bahasa, kebudayaan, harapan, kegembiraan, kesedihan, dan pergulatan batin masing-masing

“Melalui tawaf saja, Anda dapat memahami betapa besar kegembiraan dan penderitaan yang dialami dunia ketika berada di tempat yang didatangi seluruh dunia, sebab Anda tidak pergi menjumpai dunia, melainkan dunia yang datang kepada Anda,” kata Al-Shubaili kepada Arab News.

Makkah sebagai Laboratorium Kemanusiaan

Menurut Al-Shubaili, kehidupan di Makkah menumbuhkan naluri memberi tanpa syarat serta mengajarkan manusia untuk menghubungkan kedekatannya dengan Tuhan dan tanggung jawab sosial terhadap sesama.

Ia merasa sangat diberkahi karena tumbuh di kota suci tersebut, tetapi memandang keistimewaan itu sekaligus sebagai tanggung jawab untuk menyampaikan warisan dan ingatan kemanusiaan Makkah kepada dunia.

“Saya dibesarkan di tengah para jemaah, sedangkan pergi ke Masjidilharam merupakan bagian alami dari kehidupan dan rutinitas sehari-hari saya,” ujarnya.

Benih pemikiran yang kemudian membentuk kepribadian dan karya sastranya muncul ketika Al-Shubaili masih duduk di kelas empat sekolah dasar.

Sepulang sekolah, ia membeli es krim di sebuah toko populer bernama Al-Asema yang kerap dikunjungi jemaah setelah melaksanakan umrah.

Ketika sedang memegang dan menikmati es krim, seruan untuk melaksanakan salat jenazah tiba-tiba terdengar dari Masjidilharam sehingga ia ikut mendoakan orang yang meninggal di tengah kegembiraan sederhana masa kanak-kanaknya.

Pertemuan antara kegembiraan seorang anak dan kesadaran tentang kematian itu mengajarkannya bahwa kehidupan manusia tersusun dari kebahagiaan, kehilangan, doa, serta kepedulian yang dapat hadir pada saat bersamaan.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bagaimana ruang keagamaan dapat menjadi tempat pembelajaran sosial karena ritual tidak hanya membangun hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga menumbuhkan empati, solidaritas, dan kesadaran akan kefanaan manusia.

Novel Menjelma Menjadi Pengalaman Multisensori

Untuk membawa dunia novel ke dalam ruang nyata, Al-Shubaili berkolaborasi dengan seniman kontemporer sekaligus kaligrafer Arab Bayan Barboud dalam sebuah pameran seni imersif di Pusat Kebudayaan Sard.

Pameran tersebut menerjemahkan cerita, suasana batin, dan pertanyaan filosofis dalam novel melalui narasi, suara, warna, bentuk, teks, lukisan, cermin, serta instalasi konseptual.

Barboud, yang pernah mewakili Arab Saudi sebagai kaligrafer pada Expo Jepang, mengatakan seluruh warna dan bentuk dalam pameran dirancang sebagai simbol untuk membantu pengunjung memahami sosok Ismail.

Cermin ditempatkan bersama teks dan unsur visual agar pengunjung tidak sekadar melihat perjalanan tokoh utama, tetapi juga menemukan pantulan dirinya di dalam persoalan identitas yang dihadapi Ismail.

Cat yang digunakan dalam sejumlah karya bahkan dicampur dengan air Zamzam karena memiliki makna simbolis dalam cerita, meskipun unsur tersebut ditempatkan sebagai ekspresi artistik dan bukan sebagai ukuran nilai spiritual suatu karya.a

Perpaduan sastra, kaligrafi, seni instalasi, suara, dan refleksi visual menunjukkan perkembangan cara penyajian karya sastra Arab, yakni dari aktivitas membaca individual menjadi pengalaman budaya yang melibatkan lebih banyak indra.

Pesan Universal dari Tanah Suci

Nama Ismail dalam novel dapat dibaca sebagai simbol perjalanan manusia untuk mencari asal-usul, pengorbanan, ketaatan, identitas, dan tempat kembali, tetapi makna akhirnya tetap terbuka bagi penafsiran setiap pembaca.

Novel tersebut sekaligus menghadirkan Makkah bukan hanya sebagai pusat ibadah umat Islam, melainkan juga ruang perjumpaan global tempat manusia dari beragam bangsa berinteraksi dalam kesetaraan ritual.

Dalam perspektif sosial, interaksi antarjemaah memperluas pemahaman lintas budaya karena orang yang berbeda bahasa, warna kulit, status ekonomi, dan kewarganegaraan bergerak dalam rangkaian ibadah yang sama.

Al-Shubaili mengajak setiap orang yang menunaikan haji atau umrah untuk tidak hanya hadir dan melihat secara fisik, tetapi juga mengamati pengalaman kemanusiaan yang berlangsung di sekelilingnya.

“Di sana terdapat orang yang melihat dan orang yang tidak melihat, padahal pengalaman di Masjidilharam penuh dengan pelajaran kemanusiaan dan sosial yang terhubung dengan agama serta dapat membentuk kepribadian apabila seseorang memilih untuk mendalaminya,” katanya.à

Melalui Setiap Kita Memiliki Ismail, Al-Shubaili pada akhirnya mengubah ingatan Makkah menjadi jembatan sastra yang mempertemukan spiritualitas, keberagaman budaya, empati sosial, dan pencarian jati diri manusia. *(Ali)*

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: Riyadh Agustus 2026 Novelis Arab Saudi Hadeel Al-Shubaili novel For Each of Us an Ismail Setiap Kita Memiliki Ismail Pusat Kebudayaan Sard Arab Saudi