PDIP Luncurkan Fatmawati Trophy 2026, Hasto Ajak Kader Teladani Keberanian Ibu Bangsa

Dari pernikahannya dengan Soekarno lahir lima tokoh bangsa: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh Soekarnoputra.

Sejarah kemudian mencatat Megawati Soekarnoputri sebagai perempuan pertama yang menjabat Wakil Presiden sekaligus Presiden RI.

“Beliau melahirkan bukan hanya generasi secara biologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan dalam sejarah Indonesia,” ujar Bintang.

Hasto: Kader Harus Berani seperti Fatmawati

Dalam peluncuran yang digelar di Museum Fatmawati, Jakarta, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyerukan agar kader partai meneladani keberanian sang Ibu Bangsa.

“Ini adalah panggilan bagi seluruh kader. Kita memerlukan kebangkitan etika dan keteladanan dari Ibu Fat. Kader harus memiliki keberanian berdiri di barisan depan membela rakyat yang tertindas,” ujarnya.

Hasto menilai peran Fatmawati jauh melampaui statusnya sebagai ibu negara. Ia bahkan mengutip pandangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Fatmawati sebagai “Ibu Peradaban”.

“Beliau tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu peradaban politik perempuan Indonesia,” katanya.

Di museum tersebut, Hasto juga menyinggung mesin jahit yang digunakan Fatmawati menjahit bendera pusaka.

BACA JUGA: 
Megawati Raih Doktor Honoris Causa ke-11 dari Universitas Perempuan Terbesar Dunia di Arab Saudi

Menurutnya, benda itu bukan sekadar alat, melainkan simbol perjuangan dan kedaulatan bangsa.

Dari pernikahannya dengan Soekarno lahir lima tokoh bangsa: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh Soekarnoputra.

Sejarah kemudian mencatat Megawati Soekarnoputri sebagai perempuan pertama yang menjabat Wakil Presiden sekaligus Presiden RI.

“Beliau melahirkan bukan hanya generasi secara biologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan dalam sejarah Indonesia,” ujar Bintang.

Hasto: Kader Harus Berani seperti Fatmawati

Dalam peluncuran yang digelar di Museum Fatmawati, Jakarta, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyerukan agar kader partai meneladani keberanian sang Ibu Bangsa.

“Ini adalah panggilan bagi seluruh kader. Kita memerlukan kebangkitan etika dan keteladanan dari Ibu Fat. Kader harus memiliki keberanian berdiri di barisan depan membela rakyat yang tertindas,” ujarnya.

Hasto menilai peran Fatmawati jauh melampaui statusnya sebagai ibu negara. Ia bahkan mengutip pandangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Fatmawati sebagai “Ibu Peradaban”.

“Beliau tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu peradaban politik perempuan Indonesia,” katanya.

Di museum tersebut, Hasto juga menyinggung mesin jahit yang digunakan Fatmawati menjahit bendera pusaka.

BACA JUGA: 
Singgung Abolisi Tom Lembong dan Amnesti Hasto, Bamsoet: Prabowo Tokoh Pemersatu Bangsa

Menurutnya, benda itu bukan sekadar alat, melainkan simbol perjuangan dan kedaulatan bangsa.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru