27 C
Makassar
18 January 2026, 17:30 PM WITA

Presiden Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup Dengan 1.200 Guru Besar di Istana, Ini Topik Pembahasannya

Overview: 

  • Presiden Prabowo mengumpulkan 1.200 guru besar di Istana untuk menyinergikan rencana besar pemerintah dengan pemikiran para akademisi dari kampus negeri dan swasta.
  • Pertemuan kali ini memberikan perhatian khusus pada pengembangan ilmu sosial dan humaniora sebagai penyeimbang fokus sains dan teknologi dalam pembangunan nasional.
  • Pendidikan diposisikan sebagai fondasi utama guna mencetak SDM unggul untuk mengawal visi Indonesia Emas 2045.

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menyelenggarakan pertemuan tertutup dengan memanggil para akademisi ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, (15/1/2026).

Dalam agenda yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut, Kepala Negara dijadwalkan menyampaikan pidato khusus di hadapan para pakar.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie mengonfirmasi bahwa jumlah peserta yang hadir mencapai ribuan orang.

“Bapak Presiden mengumpulkan sekitar 1.200 (orang) pada hari ini, jadi banyak sekali yang hadir,” kata Stella di Istana Kepresidenan pada Kamis pagi.

Peserta yang memadati Istana terdiri dari jajaran rektor, dekan, hingga guru besar yang mewakili berbagai perguruan tinggi, baik dari sektor negeri maupun swasta.

Baca Juga: 
Purbaya Sebut Prabowo Setuju Tak Potong TKD Aceh Demi Rehabilitas Pascabencana

Stella menambahkan bahwa inisiatif Presiden untuk merangkul kaum intelektual secara masif seperti ini merupakan langkah yang jarang terjadi.

“Yang pertama sudah terjadi tahun lalu, dan sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah ini, tidak pernah seorang Presiden mengumpulkan para akademisi dari universitas,” ucap dia.

Pada pertemuan kali ini, Presiden Prabowo disebut akan memberikan sorotan lebih mendalam pada bidang ilmu sosial humaniora.

Hal ini merupakan kelanjutan sekaligus pelengkap dari pertemuan tahun lalu yang lebih menitikberatkan pada sektor sains dan teknologi.

Melalui langkah ini, Stella menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan perlakuan khusus hanya pada rumpun ilmu tertentu.

Overview: 

  • Presiden Prabowo mengumpulkan 1.200 guru besar di Istana untuk menyinergikan rencana besar pemerintah dengan pemikiran para akademisi dari kampus negeri dan swasta.
  • Pertemuan kali ini memberikan perhatian khusus pada pengembangan ilmu sosial dan humaniora sebagai penyeimbang fokus sains dan teknologi dalam pembangunan nasional.
  • Pendidikan diposisikan sebagai fondasi utama guna mencetak SDM unggul untuk mengawal visi Indonesia Emas 2045.

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menyelenggarakan pertemuan tertutup dengan memanggil para akademisi ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, (15/1/2026).

Dalam agenda yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut, Kepala Negara dijadwalkan menyampaikan pidato khusus di hadapan para pakar.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie mengonfirmasi bahwa jumlah peserta yang hadir mencapai ribuan orang.

“Bapak Presiden mengumpulkan sekitar 1.200 (orang) pada hari ini, jadi banyak sekali yang hadir,” kata Stella di Istana Kepresidenan pada Kamis pagi.

Peserta yang memadati Istana terdiri dari jajaran rektor, dekan, hingga guru besar yang mewakili berbagai perguruan tinggi, baik dari sektor negeri maupun swasta.

Baca Juga: 
Prabowo Sediakan 4 Triliun Dana Riset Untuk Dorong Hilirisasi Industri Nasional

Stella menambahkan bahwa inisiatif Presiden untuk merangkul kaum intelektual secara masif seperti ini merupakan langkah yang jarang terjadi.

“Yang pertama sudah terjadi tahun lalu, dan sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah ini, tidak pernah seorang Presiden mengumpulkan para akademisi dari universitas,” ucap dia.

Pada pertemuan kali ini, Presiden Prabowo disebut akan memberikan sorotan lebih mendalam pada bidang ilmu sosial humaniora.

Hal ini merupakan kelanjutan sekaligus pelengkap dari pertemuan tahun lalu yang lebih menitikberatkan pada sektor sains dan teknologi.

Melalui langkah ini, Stella menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan perlakuan khusus hanya pada rumpun ilmu tertentu.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/