24 C
Makassar
18 January 2026, 20:45 PM WITA

PRPHKI: Koalisi Permanen Berisiko Matikan Karakter Partai

SulawesiPos.com – Gagasan mengenai pembentukan koalisi permanen antarpartai politik di Indonesia menuai kritik tajam.

Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menilai wacana tersebut tidak selaras dengan napas demokrasi dan justru berpotensi merusak dinamika internal partai politik di tanah air.

Saiful menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi multipartai, memaksakan sebuah koalisi menjadi permanen adalah konsep yang tidak realistis dan cenderung utopis.

“Koalisi permanen menurut saya hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Ide koalisi permanen hanyalah ide yang kurang baik dan pas dalam alam demokrasi. Tidak mungkin parpol dipaksa untuk memilih pilihan rumit yang bernama koalisi permanen,” ujar Saiful Anam kepada awak media dilansir dari RMOL, Minggu (04/01/2026).

Akademisi Universitas Sahid Jakarta ini mensinyalir bahwa dorongan koalisi permanen muncul dari rasa tidak percaya diri partai politik menghadapi konstelasi kekuatan nasional.

Ia menilai ada kekhawatiran dari elite partai terhadap arah perkembangan politik masa depan yang semakin kompetitif.

“Pilihan koalisi permanen hanya pas bagi mereka yang ketakutan akan arah perkembangan parpol ke depan. Selain itu bisa jadi parpol tersebut merasa ciut dengan kekuatan kekuasaan yang semakin tidak mungkin untuk dilawan,” tegasnya.

Baca Juga: 
Demi Pulihkan Layanan Publik Mendagri Terjunkan Ribuan Praja IPDN ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra

Lebih jauh, Saiful memperingatkan risiko partai politik kehilangan jati diri sebagai organisasi perjuangan.

Ia mengkhawatirkan partai-partai tersebut justru berubah menjadi hamba atau sekadar kepanjangan tangan dari kekuasaan demi menjaga posisi aman.

Dampak dari koalisi permanen diprediksi akan menyentuh hingga ke level akar rumput.

SulawesiPos.com – Gagasan mengenai pembentukan koalisi permanen antarpartai politik di Indonesia menuai kritik tajam.

Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menilai wacana tersebut tidak selaras dengan napas demokrasi dan justru berpotensi merusak dinamika internal partai politik di tanah air.

Saiful menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi multipartai, memaksakan sebuah koalisi menjadi permanen adalah konsep yang tidak realistis dan cenderung utopis.

“Koalisi permanen menurut saya hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Ide koalisi permanen hanyalah ide yang kurang baik dan pas dalam alam demokrasi. Tidak mungkin parpol dipaksa untuk memilih pilihan rumit yang bernama koalisi permanen,” ujar Saiful Anam kepada awak media dilansir dari RMOL, Minggu (04/01/2026).

Akademisi Universitas Sahid Jakarta ini mensinyalir bahwa dorongan koalisi permanen muncul dari rasa tidak percaya diri partai politik menghadapi konstelasi kekuatan nasional.

Ia menilai ada kekhawatiran dari elite partai terhadap arah perkembangan politik masa depan yang semakin kompetitif.

“Pilihan koalisi permanen hanya pas bagi mereka yang ketakutan akan arah perkembangan parpol ke depan. Selain itu bisa jadi parpol tersebut merasa ciut dengan kekuatan kekuasaan yang semakin tidak mungkin untuk dilawan,” tegasnya.

Baca Juga: 
Kaesang Pangarep Puji Kekuatan PSI Jatim di Rakorwil

Lebih jauh, Saiful memperingatkan risiko partai politik kehilangan jati diri sebagai organisasi perjuangan.

Ia mengkhawatirkan partai-partai tersebut justru berubah menjadi hamba atau sekadar kepanjangan tangan dari kekuasaan demi menjaga posisi aman.

Dampak dari koalisi permanen diprediksi akan menyentuh hingga ke level akar rumput.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/