Para pemain Amerika Serikat berkumpul di tengah lapangan setelah kalah 1-4 dari Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Seattle. Foto: FIFA/World Cup.
SulawesiPos.com – Kekalahan Amerika Serikat dari Belgia dengan skor 1-4 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 pada Selasa (07/07) kembali menegaskan satu pola lama dalam sejarah turnamen ini: menjadi tuan rumah tidak otomatis mendekatkan sebuah tim kepada gelar juara dunia.
Di tengah dukungan publik sendiri dan sorotan besar yang mengiringi perjalanan mereka, AS justru masuk ke daftar panjang negara penyelenggara yang gagal menuntaskan misi di rumah sendiri.
Laga di Seattle itu sejak awal memang sudah sarat tekanan. Amerika Serikat datang dengan ekspektasi besar sebagai salah satu tuan rumah turnamen, apalagi setelah polemik pembatalan skorsing Folarin Balogun membuat pertandingan melawan Belgia kian panas.
Namun di atas lapangan, semua narasi itu runtuh ketika Belgia tampil lebih tajam, lebih tenang, dan menghukum setiap celah di lini belakang tuan rumah.
Charles De Ketelaere menjadi pembeda lewat dua gol dan satu assist, sementara Romelu Lukaku menutup kemenangan Belgia di injury time.
Amerika Serikat sempat memberi perlawanan, tetapi hasil akhir 1-4 memastikan langkah mereka berhenti sebelum perempat final.
Hasil ini membuat Amerika Serikat gagal mematahkan tren panjang Piala Dunia. Dalam sejarah turnamen, hanya segelintir tuan rumah yang mampu menjuarai kompetisi di hadapan publik sendiri.
Prancis pada 1998 masih menjadi tuan rumah terakhir yang berhasil mengangkat trofi di kandang, ketika Zinedine Zidane dan kolega menaklukkan Brasil 3-0 di final.
Sejak itu, tidak ada lagi negara penyelenggara yang mampu mengulang pencapaian tersebut. Jerman pada 2006 berhenti di semifinal, Brasil justru mengalami malam paling traumatis dengan kalah 1-7 dari Jerman pada semifinal 2014, Rusia hanya sampai perempat final pada 2018, dan Qatar tersingkir cepat pada fase grup 2022.
Kini Amerika Serikat menambah daftar itu. Dukungan stadion, status tuan rumah, dan sorotan nasional terbukti belum cukup untuk mengangkat mereka melewati tantangan fase gugur ketika lawan datang dengan kualitas yang lebih stabil.
Kisah kekalahan ini juga makin tajam karena dibarengi polemik Folarin Balogun. FIFA sebelumnya membatalkan hukuman skorsing satu laga untuk sang penyerang setelah kasus kartu merahnya melawan Bosnia-Herzegovina ditinjau ulang.
Keputusan itu memicu kritik keras, termasuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui sempat meminta Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau kasus tersebut.
Namun kontroversi itu tidak memberi dampak positif di atas lapangan. Belgia justru tampil tanpa beban dan menutup malam dengan kemenangan telak.
Selebrasi sejumlah pemain Belgia yang diidentikkan publik sebagai “Trump dance” usai gol keempat semakin mempertegas ironi bagi tuan rumah yang tersingkir di tengah panggungnya sendiri.
Bagi Piala Dunia 2026, hasil ini menjadi pengingat bahwa bermain di rumah sendiri tetap lebih sering menghadirkan tekanan besar daripada jaminan keberhasilan.
Bagi Amerika Serikat, turnamen yang diharapkan menjadi momentum bersejarah justru berakhir sebagai bab lain dalam sejarah panjang tuan rumah yang gagal juara.