Prof Hasil Sembiring
Oleh: Prof Hasil Sembiring
Senior Advisor dan Liaison Scientist International Rice Research Institute (IRRI) periode 2018-2025
SulawesiPos.com – Dalam agronomi padi, kekeringan jarang membunuh tanaman dalam semalam. Ia bekerja perlahan, dari air yang tidak sampai ke petak sawah, pupuk yang terlambat datang, hingga petani yang kehilangan keyakinan untuk menanam. Karena itu dampak El Niño lebih sering terbaca lebih dulu di jalanan ketimbang di laboratorium. Jumat pagi, 18 September 2026, di Gabtala Bazar, Kurigram, Bangladesh utara, petani menumbangkan batang pohon untuk memblokade jalan Madarganj-Kachakata demi menuntut pupuk, lalu menahan seorang petugas penyuluh pertanian di gudang dealer selama hampir empat jam. Blokade baru dibuka setelah pejabat kecamatan berjanji pupuk segera disalurkan, dan petugas itu dievakuasi dengan pengawalan polisi.
Bangladesh tidak sendirian. Di Punjab, India, Kisan Mazdoor Morcha mengumumkan lima hari demonstrasi mulai 16 September di depan rumah Ketua DPRD dan tujuh menteri negara bagian, tepat menjelang panen padi. Sepanjang tahun ini petani di sana melaporkan listrik pertanian hanya menyala dua setengah sampai empat jam sehari pada puncak tanam, sehingga mereka terpaksa beralih ke pompa diesel yang jauh lebih mahal. Di Malaysia, pertengahan Agustus PeSAWAH menggelar himpunan di Jerlun soal terlambatnya pasokan pupuk, hingga Perdana Menteri Anwar Ibrahim meminta SPRM menyelidiki keterlambatan Baja 3 di kawasan MADA. Di Thailand, asosiasi petani mengancam turun ke jalan karena bantuan 1.000 baht per rai untuk sekitar 230 ribu rumah tangga, senilai lebih dari 1,8 miliar baht, belum juga cair meski sudah disetujui sejak 11 Juni.
Benang merahnya jelas. El Niño yang menguat bertemu dengan guncangan pasokan pupuk akibat konflik Timur Tengah. AP mencatat India, Vietnam, dan Thailand, tiga eksportir beras terbesar dunia, termasuk yang paling rentan terpukul El Niño tahun ini. Tiga faktor produksi paling dasar dalam budidaya padi, yakni air, hara, dan kepastian harga, sedang tertekan bersamaan di banyak negara Asia. Pertanyaan ilmiahnya bukan lagi apakah El Niño akan berdampak, melainkan sistem pangan mana yang cukup siap meredam dampaknya.
Sebagai peneliti yang bekerja di jejaring riset padi internasional, saya terbiasa membaca data pangan dari banyak negara dengan kepala dingin. Namun tahun ini saya tidak dapat menyembunyikan rasa bangga sebagai orang Indonesia. Di saat banyak lumbung padi Asia goyah, negeri kita berdiri tegak. Ini bukan keberuntungan cuaca, melainkan buah dari arah kebijakan yang tegas dari Presiden Prabowo Subianto, eksekusi yang cepat di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan kerja keras jutaan petani serta penyuluh yang tetap turun ke sawah ketika hujan mulai menjauh. Izinkan saya menguraikannya satu per satu.
Pertama, hara. Pemerintah memangkas harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi hingga 20 persen per 22 Oktober 2025, untuk pertama kalinya dalam sejarah program subsidi, tanpa menambah anggaran APBN, melainkan lewat efisiensi industri dan pembenahan tata kelola distribusi. Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram. Tahun ini anggaran subsidi sekitar Rp46 triliun menjamin volume nasional kira-kira 8,9 juta ton. Dalam budidaya padi, ketepatan waktu pemupukan sama pentingnya dengan dosis, sehingga kepastian pasokan dan harga ini berdampak langsung pada hasil. Pengawasannya juga berjalan. Sejak Oktober 2025 Kementerian Pertanian telah mencabut 2.231 izin pengecer dan distributor yang bermain harga, bagian dari penyisiran terhadap lebih dari 27 ribu kios di seluruh negeri. Bandingkan dengan Bangladesh, tempat petani menuduh pengecer menarik Tk 200 hingga 500 per karung di atas harga resmi.
Kedua, air. Hingga pertengahan September, Kementerian Pertanian mencatat 137.573 unit pompa telah disiagakan di sawah-sawah yang masih memiliki sumber air. Dampaknya terukur di lapangan. Di Indramayu, target tanam Juni 2026 yang semula sekitar 25 ribu hektare meningkat menjadi sekitar 41 ribu hektare berkat dukungan kurang lebih 200 unit pompa. Sejarah memberi pembanding yang berharga. El Niño 2015 menyebabkan puso 217 ribu hektare, sedangkan kekeringan 2023 hanya 49 ribu hektare atau 0,4 persen dari luas panen. Pelajaran dari satu dekade terakhir benar-benar dipakai.
Ketiga, produksi. Sebagian pengamat menyebut produksi beras tahun ini stagnan. Secara statistik itu benar, dan justru di situ letak kabar baiknya. Badan Pusat Statistik mencatat produksi Januari hingga September 2026 sebesar 28,71 juta ton, nyaris sama dengan periode yang sama tahun lalu. Yang perlu diingat, tahun lalu adalah tahun luar biasa. Produksi 2025 mencapai 34,69 juta ton, melonjak 4,07 juta ton atau 13,29 persen dari 2024, jauh di atas kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Dalam kajian produksi pangan, mempertahankan lompatan sebesar itu di tengah kemarau adalah konsolidasi, bukan stagnasi. Bahkan pada Agustus hingga Oktober, periode paling kering, potensi produksi hanya terkoreksi 0,90 persen.
Keempat, kepastian harga. Di Delta Mekong, harga gabah anjlok hingga 17 persen hanya dalam sepekan pada awal September. Di Malaysia, biaya produksi padi di sebagian wilayah melonjak hingga RM6.000 per hektare. Petani Indonesia bekerja dengan kepastian yang lebih baik. Bulog ditugaskan menyerap gabah Rp6.500 per kilogram tanpa syarat kualitas ketat seperti kadar air dan derajat sosoh. Hingga 3 Juni 2026 serapan telah menembus 3,01 juta ton setara beras, dan stok Bulog sempat melampaui lima juta ton pada pertengahan tahun, tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional. Kepastian harga semacam ini penting karena ia menentukan keputusan petani untuk kembali menanam pada musim berikutnya. Lebih dari itu, beras Indonesia kini mulai diekspor ke Malaysia, dan 10 ribu ton telah dikirim sebagai bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Negeri yang beberapa tahun lalu masih bergantung pada beras impor kini ikut menopang pangan tetangga dan saudara jauhnya.
Hasilnya tercermin pada kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani Agustus 2026 mencapai 129,19, naik 1,05 persen dari bulan sebelumnya, karena harga yang diterima petani naik 1,14 persen sementara harga yang mereka bayar hanya naik 0,09 persen. Di tingkat makro, PDB sektor pertanian sepanjang 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam seperempat abad, dan sektor ini tetap tumbuh positif hingga pertengahan 2026 sambil menyumbang 13,57 persen perekonomian nasional.
Kepemimpinan itu terlihat nyata pada peringatan Hari Tani Nasional pekan lalu. Sekitar 1.000 petani Indramayu datang ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada 24 September, dan Menteri Amran Sulaiman menemui mereka seusai salat subuh, sebelum aksi dimulai. Tuntutan mereka nyata, dari air sawah tadah hujan, irigasi perpompaan, distribusi pupuk, hingga alat dan mesin pertanian. Jawaban diberikan saat itu juga, termasuk tambahan 24 traktor tangan dan dua traktor besar serta instruksi langsung kepada Pupuk Indonesia. Di Kurigram, petugas negara disandera petani. Di Jakarta, seorang menteri datang menjemput keluhan petani sebelum matahari terbit. Perbedaan itu menjelaskan banyak hal tentang mengapa sawah kita relatif tenang.
Keberhasilan sebesar ini tidak membuat pemerintah berpuas diri, dan memang tidak boleh. BPS mencatat harga beras medium pekan ketiga September rata-rata Rp14.644 per kilogram, di atas HET zona 1 dan zona 2. Pertumbuhan pertanian triwulan II-2026 melambat menjadi 3,8 persen karena tanaman pangan terkontraksi, meski BPS menjelaskan penyebabnya adalah bergesernya puncak panen raya ke Maret. Petani Indramayu juga masih menagih janji jaringan irigasi air tanah yang disampaikan pada Hari Tani 2025. Kritik semacam ini sah dan perlu dijawab dengan eksekusi. Namun ada perbedaan mendasar antara sistem yang sedang menambal kebocoran dan sistem yang sedang goyah. Yang pertama menghasilkan tuntutan. Yang kedua menghasilkan blokade.
Kesiapan juga harus dirawat. Pompa hanya efektif sejauh sumber airnya berkelanjutan, sehingga perlu diiringi teknik pengairan hemat air seperti pengairan basah kering berselang yang telah lama dikembangkan bersama komunitas riset padi internasional. Percepatan penggunaan varietas berumur genjah dan toleran kekeringan akan memperpendek masa tanaman terpapar kemarau. Data pertanaman dari Kerangka Sampel Area perlu terus menjadi dasar keputusan distribusi pompa dan pupuk, agar bantuan tiba di tempat yang paling membutuhkan pada waktu yang paling tepat.
Musim ini belum selesai. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memberi peluang lebih dari 90 persen El Niño sangat kuat pada kuartal terakhir 2026, dan otoritas pertanian Thailand memperkirakan dampaknya bertahan hingga awal 2027. Bagi sebagian negara di kawasan, babak terberat masih di depan. Indonesia menghadapinya dengan posisi yang jauh lebih kokoh. Pompa sudah terpasang sebelum sawah retak. Harga pupuk sudah turun sebelum petani negara lain mengantre di gudang dealer. Ketersediaan beras nasional sekitar 26 juta ton, cukup untuk sepuluh bulan ke depan hingga Juni 2027, melampaui perkiraan akhir El Niño itu sendiri. Produksi bertahan di level rekor dan Nilai Tukar Petani terus menanjak. El Niño kali ini tidak menemukan Indonesia dalam keadaan lengah. Ia menemukan bangsa yang telah menyiapkan diri jauh sebelum awan berhenti datang, dan bagi saya, itulah bentuk nasionalisme yang paling nyata, yakni memastikan tidak ada anak negeri yang kehilangan nasi di piringnya.*