Pentingnya kesadaran Manuf actured Crisis: Pertanyaan paling penting dalam membaca sebuah krisis bukan hanya “Apa yang terjadi?”, tetapi juga “Bagaimana sesuatu yang terjadi itu berubah menjadi krisis?”
Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku Negara Dalam Kemasan
SulawesiPos.com – Tidak semua krisis datang dari alam, apalagi kutukan. Ada krisis yang lahir dari keadaan yang benar-benar terjadi, tetapi kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar karena dibiarkan, dibentuk, diperbesar, dan diberi makna tertentu. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk segera mencari siapa yang salah, melainkan untuk bertanya lebih dalam: apakah yang sedang kita saksikan benar-benar sebuah krisis yang tumbuh secara alamiah, atau ada proses tertentu yang membuat sebuah persoalan berkembang menjadi krisis yang kemudian menguasai perhatian publik?
Pertanyaan itu penting karena masyarakat hari ini hidup dalam arus informasi yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksa kebenarannya. Sebuah foto dapat menyebar sebelum penjelasan datang. Sebuah video dapat membangun kemarahan sebelum konteksnya diketahui. Sebuah pernyataan dapat menjadi kesimpulan sebelum fakta-fakta yang mendahuluinya diperiksa. Dalam keadaan seperti itu, sebuah masalah tidak hanya berlangsung di lapangan. Ia juga berlangsung di ruang persepsi. Dan sering kali, pertarungan di ruang persepsi justru menentukan bagaimana masyarakat memahami kenyataan.
Istilah manufactured crisis membantu kita membaca fenomena tersebut. Ia tidak selalu berarti bahwa sebuah krisis sepenuhnya palsu atau direkayasa dari ketiadaan. Justru di situlah letak persoalannya. Krisis yang manufactured dapat berangkat dari masalah yang benar-benar ada. Sampah memang menumpuk. Pelayanan memang terganggu. Bahan bakar memang terlambat. Jalan memang rusak. Harga memang naik. Sistem memang mengalami gangguan. Tetapi persoalan yang nyata itu dapat mengalami proses lain: dibiarkan membesar, diperpanjang, dibingkai dengan cara tertentu, kemudian diarahkan kepada makna yang lebih luas. Dari persoalan teknis, ia berubah menjadi persoalan pemerintahan. Dari persoalan pemerintahan, berubah menjadi persoalan kepemimpinan. Dari persoalan kepemimpinan, berubah menjadi persoalan legitimasi.
Karena itu, pertanyaan paling penting dalam membaca sebuah krisis bukan hanya “Apa yang terjadi?”, tetapi juga “Bagaimana sesuatu yang terjadi itu berubah menjadi krisis?” Di antara sebuah masalah dan sebuah krisis terdapat sebuah ruang yang sering kali luput dari perhatian. Di ruang itulah terdapat keputusan, kelalaian, komunikasi, informasi, kepentingan, respons, pembingkaian, dan tindakan para aktor. Sebuah keran yang bocor adalah masalah. Tetapi ketika kebocoran itu dibiarkan berhari-hari sampai rumah terendam, listrik dipadamkan, warga panik, media datang, dan pejabat mulai saling menyalahkan, masalah tersebut telah memperoleh tubuh baru bernama krisis.
Miklós Sebők, dalam kajiannya tentang The Politics of Manufactured Crisis, menjelaskan bahwa manufactured crisis berbeda dari krisis yang semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal atau bencana yang berada di luar kendali manusia. Ia berkaitan dengan krisis yang bersifat endogen, yang dapat muncul atau dibentuk melalui tindakan strategis aktor-aktor politik. Gagasan ini penting bukan karena setiap krisis harus dicurigai sebagai rekayasa, tetapi karena ia mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan politik, krisis juga dapat menjadi hasil dari pilihan manusia. Ada keputusan yang dibuat, ada keputusan yang tidak dibuat, ada persoalan yang diselesaikan, ada pula persoalan yang dibiarkan berkembang.
Di sinilah masyarakat membutuhkan apa yang saya sebut sebagai sense of crisis—kepekaan untuk membaca bukan hanya permukaan peristiwa, tetapi juga proses yang membentuknya. Sense semacam ini bukan prasangka. Ia bukan pula kebiasaan mencurigai semua pihak. Ia adalah kemampuan untuk menahan diri agar tidak terlalu cepat percaya kepada kesimpulan pertama yang muncul di hadapan mata.
Bayangkan sebuah kota rekaan bernama Kota Arunika. Suatu pagi, pelayanan pengangkutan sampah di kota itu berhenti. Dua puluh truk sampah tidak beroperasi karena perusahaan penyedia bahan bakar menghentikan pasokan akibat tagihan pemerintah yang belum dibayar. Kepala dinas mengetahui persoalan tersebut, tetapi informasi itu tidak segera sampai kepada pimpinan pemerintahan. Hari pertama, sampah belum terlalu banyak. Hari kedua, beberapa sudut kota mulai dipenuhi kantong plastik. Hari ketiga, bau mulai menyebar. Hari keempat, sampah mulai menutupi sebagian badan jalan. Hari kelima, foto-foto tumpukan sampah memenuhi media sosial. Masyarakat mulai bertanya: “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”
Pada hari keenam, tagihan akhirnya dibayar. Secara logika, persoalan seharusnya selesai. Tetapi ternyata truk belum juga bergerak karena muncul persoalan baru. Tempat pembuangan akhir ternyata sedang bermasalah. Jalan masuk ditutup oleh sekelompok warga yang mengklaim sebagian lahan tersebut. Pemerintah kemudian membuka jalur alternatif. Jalur alternatif itu ternyata rusak. Perbaikan membutuhkan waktu. Hari ketujuh, sampah semakin tinggi. Hari kedelapan, foto sampah menjadi berita utama. Pada saat itulah sesuatu yang jauh lebih penting daripada sampah mulai terjadi: arah pertanyaan publik berubah.
Pada awalnya masyarakat bertanya, “Mengapa truk sampah tidak beroperasi?” Kemudian pertanyaannya berubah menjadi, “Mengapa pemerintah tidak mampu mengatasi sampah?” Tidak lama kemudian pertanyaannya dapat berubah lagi menjadi, “Mengapa pemimpin kota gagal mengendalikan keadaan?” Perhatikan pergeseran itu. Masalah teknis telah berubah menjadi masalah pemerintahan. Masalah pemerintahan berubah menjadi masalah kepemimpinan. Masalah kepemimpinan kemudian dapat berubah menjadi masalah legitimasi. Padahal, titik awalnya mungkin hanya sebuah tagihan yang terlambat dibayar.
Di sinilah kita harus memiliki kewaspadaan. Bukan kewaspadaan yang membuat kita curiga kepada semua orang, melainkan kewaspadaan yang membuat kita tidak mudah menerima sebuah peristiwa hanya berdasarkan wajah permukaannya. Sebab sebuah krisis mempunyai dua tubuh. Tubuh pertama adalah kenyataan. Tubuh kedua adalah persepsi tentang kenyataan. Tubuh pertama mungkin berupa sampah, kemacetan, kelangkaan, kerusakan, keterlambatan pelayanan, atau kegagalan sistem. Tubuh kedua adalah cerita yang dibangun mengenai semua itu.
Moshe Maor, melalui kajiannya tentang policy overreaction styles during manufactured crises, menunjukkan bahwa dalam krisis yang dibentuk atau diperbesar secara politik, respons terhadap suatu persoalan dapat mengalami pembesaran tertentu sehingga persepsi mengenai ancaman dan urgensi persoalan menjadi lebih kuat. Dengan demikian, memahami sebuah krisis tidak cukup hanya dengan melihat apa yang dilakukan setelah krisis muncul. Kita juga perlu memperhatikan bagaimana skala ancaman dibentuk dan bagaimana respons terhadapnya dikomunikasikan kepada publik.
Karena itu, masyarakat perlu belajar membaca urutan peristiwa. Apa yang terjadi terlebih dahulu? Siapa yang mengetahui? Siapa yang memiliki kewenangan? Kapan tindakan dilakukan? Apakah sebenarnya terdapat jalan keluar yang tersedia? Mengapa jalan keluar itu tidak digunakan sejak awal? Mengapa sebuah persoalan yang sebelumnya dapat diselesaikan tiba-tiba berubah menjadi keadaan luar biasa? Mengapa sebuah solusi baru muncul setelah tekanan publik meningkat? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu dapat membantu kita melihat sesuatu yang tidak tampak dalam satu foto, satu video, atau satu berita.
Kita juga perlu memahami bahwa dalam masyarakat informasi, siapa yang lebih dahulu memberikan cerita sering kali memperoleh keuntungan dalam membentuk persepsi. Sebuah foto tumpukan sampah dapat berbicara lebih keras daripada laporan administratif. Sebuah video kemacetan dapat menimbulkan kemarahan sebelum penyebabnya diketahui. Sebuah kalimat pendek seperti “pemerintah gagal” dapat menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan panjang mengenai prosedur, kewenangan, anggaran, dan kendala teknis. Bukan karena masyarakat tidak mampu berpikir, tetapi karena informasi yang sederhana lebih mudah bergerak daripada kenyataan yang kompleks.
Di sinilah framing menjadi penting. Peristiwa yang sama dapat diberikan bingkai yang berbeda. “Truk tidak beroperasi karena tagihan belum dibayar” dapat berubah menjadi “pemerintah tidak mampu memberikan pelayanan”. “Jalan menuju tempat pembuangan akhir ditutup karena sengketa lahan” dapat berubah menjadi “pemerintah kehilangan kendali”. “Masalah sedang dalam proses penyelesaian” dapat berubah menjadi “pemerintah baru bergerak setelah mendapat tekanan”. Fakta awalnya mungkin sama, tetapi maknanya dapat berbeda jauh.
Maka, masyarakat tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Masyarakat harus menjadi pembaca peristiwa. Ada perbedaan besar antara kedua posisi tersebut. Konsumen informasi menerima apa yang disajikan. Pembaca peristiwa mencoba memahami apa yang berada di balik yang disajikan. Konsumen melihat kejadian. Pembaca melihat rangkaian kejadian. Konsumen melihat siapa yang berbicara. Pembaca bertanya siapa yang tidak berbicara. Konsumen melihat siapa yang tampil menyelesaikan masalah. Pembaca bertanya mengapa masalah itu sampai menjadi besar sebelum diselesaikan.
Inilah yang saya maksud dengan kesadaran atas manufactured crisis. Kesadaran itu bukan ajakan untuk melihat dunia dengan kacamata curiga. Justru sebaliknya. Ia adalah ajakan untuk melihat dunia dengan kacamata yang lebih jernih. Kita harus mampu membedakan antara fakta dan narasi, antara masalah dan krisis, antara sebab dan akibat, antara kegagalan yang terjadi secara alamiah dan keadaan yang mungkin diperbesar oleh keputusan manusia.
Tidak semua keterlambatan adalah rekayasa. Tidak semua konflik adalah permainan. Tidak setiap kegagalan merupakan konspirasi. Dunia pemerintahan memang penuh dengan persoalan yang muncul dari ketidaksempurnaan manusia, keterbatasan anggaran, prosedur yang panjang, koordinasi yang lemah, kesalahan teknis, bahkan ketidakmampuan organisasi. Karena itu, kewaspadaan terhadap manufactured crisis justru harus berjalan bersama dengan sikap adil. Jangan mengganti satu prasangka dengan prasangka yang lain.
Namun, ketika sebuah persoalan berulang kali dibiarkan, informasi tidak mengalir kepada pihak yang seharusnya mengetahui, solusi tersedia tetapi tidak digunakan, masalah semakin membesar, lalu muncul narasi yang mengarahkan kesalahan kepada pihak tertentu dan pada saat bersamaan menghadirkan aktor lain sebagai penyelamat, maka masyarakat patut berhenti sejenak. Bukan untuk menuduh, melainkan untuk membaca lebih teliti.
Sebab sebuah krisis bukan hanya tentang api yang sedang menyala. Ia juga tentang siapa yang pertama kali melihat asap, siapa yang memiliki alat untuk memadamkannya, siapa yang memilih menunggu, siapa yang memberitahu masyarakat bahwa rumah sedang terbakar, dan siapa yang akhirnya datang membawa ember ketika kamera sudah menyala.
Di situlah letak pentingnya sense masyarakat. Kita tidak boleh mudah digiring oleh kepanikan, tetapi juga tidak boleh kehilangan kepekaan ketika sesuatu yang ganjil sedang berlangsung. Kita perlu belajar membaca pola, urutan, jeda, perubahan narasi, dan pergeseran siapa yang dianggap bertanggung jawab. Karena dalam banyak keadaan, kebenaran tidak selalu bersembunyi di balik apa yang dikatakan. Kadang-kadang ia justru bersembunyi di antara apa yang terjadi, apa yang tidak dilakukan, dan apa yang sengaja atau tidak sengaja dibiarkan terjadi.
Masyarakat yang matang bukan masyarakat yang selalu percaya kepada pemerintah, tetapi juga bukan masyarakat yang selalu mencurigai pemerintah. Masyarakat yang matang adalah masyarakat yang mampu menjaga jarak dari setiap narasi sampai fakta-faktanya cukup terang untuk dibaca. Ia tidak terburu-buru marah. Ia tidak terburu-buru memuji. Ia tidak mudah menjadikan seseorang sebagai penjahat dan orang lain sebagai penyelamat hanya karena sebuah cerita telah dikemas dengan baik.
Sebab kamera di zaman ini dapat mengubah peristiwa menjadi tontonan dan media sosial dapat mengubah tontonan menjadi keyakinan, kemampuan membaca krisis adalah bagian dari kecerdasan publik. Kita perlu memiliki mata untuk melihat peristiwa, tetapi juga akal untuk membaca rangkaiannya. Kita membutuhkan telinga untuk mendengar pernyataan, tetapi juga nalar untuk membaca kepentingan di balik narasi. Kita perlu mengetahui apa yang terjadi, tetapi lebih penting lagi memahami bagaimana sesuatu yang terjadi kemudian dibentuk menjadi sebuah krisis.
Karena bisa jadi, yang sedang kita hadapi bukan hanya sebuah masalah yang membutuhkan penyelesaian. Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan sebuah cerita tentang masalah yang sedang dibentuk menjadi krisis. Dan ketika itu terjadi, masyarakat harus berhati-hati. Jangan sampai kita hanya melihat orang yang datang membawa ember. Lalu lupa bertanya:Siapa yang membiarkan api itu membesar?
Makassar, 26 September 2026